SUHU POLITIK TANGSEL MENJELANG PILKADA
Oleh : YUSEP PRIHANTO
Monday, May 31, 2010
KENAIKAN KELAS DAN KELULUSAN
1. Syarat Kenaikan Kelas
Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. Siswa dinyatakan naik kelas apabila :
1. Telah mencapai kriteria ketentuan minimal pada semua indikator, Kompetensi Dasar (KD), dan Standar Kompetensi (SK) pada semua mata pelajaran.
2. Kehadiran di kelas untuk semua mata pelajaran minimal 80 % untuk kelas VII dan 85 % untuk kelas VIII.
3. Tidak pernah terlibat narkoba, miras, dan tawuran.
4. Tidak pernah melawan guru secara fisik dan non fisik.
Siswa dinyatakan harus mengulang di kelas yang sama apabila :
1. Belum mencapai kriteria ketuntasan minimal pada lebih dari 4 mata pelajaran dan tidak boleh ada nilai kurang dari 40.
2. Ketidak hadiran tanpa keterangan di kelas untuk semua mata pelajaran lebih dari 20 % untuk kelas VII dan 15 % untuk kelas VIII.
3. Pernah terlibat narkoba, miras, dan tawuran.
4. Pernah melakukan tindakan melawan guru secara fisik dan non fisik.
Ketika mengulang di kelas yang sama, nilai siswa untuk semua aspek mata pelajaran yang ketuntasan belajar minimumnya sudah tercapai, minimal sama dengan yang sudah dicapai pada tahun sebelumnya.
2. Syarat Kelulusan
Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:
a. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
b. Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan;
c. Lulus ujian sekolah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
d. Lulus Ujian Nasional.
1. Syarat Kenaikan Kelas
Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. Siswa dinyatakan naik kelas apabila :
1. Telah mencapai kriteria ketentuan minimal pada semua indikator, Kompetensi Dasar (KD), dan Standar Kompetensi (SK) pada semua mata pelajaran.
2. Kehadiran di kelas untuk semua mata pelajaran minimal 80 % untuk kelas VII dan 85 % untuk kelas VIII.
3. Tidak pernah terlibat narkoba, miras, dan tawuran.
4. Tidak pernah melawan guru secara fisik dan non fisik.
Siswa dinyatakan harus mengulang di kelas yang sama apabila :
1. Belum mencapai kriteria ketuntasan minimal pada lebih dari 4 mata pelajaran dan tidak boleh ada nilai kurang dari 40.
2. Ketidak hadiran tanpa keterangan di kelas untuk semua mata pelajaran lebih dari 20 % untuk kelas VII dan 15 % untuk kelas VIII.
3. Pernah terlibat narkoba, miras, dan tawuran.
4. Pernah melakukan tindakan melawan guru secara fisik dan non fisik.
Ketika mengulang di kelas yang sama, nilai siswa untuk semua aspek mata pelajaran yang ketuntasan belajar minimumnya sudah tercapai, minimal sama dengan yang sudah dicapai pada tahun sebelumnya.
2. Syarat Kelulusan
Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:
a. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
b. Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan;
c. Lulus ujian sekolah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
d. Lulus Ujian Nasional.
Saturday, May 29, 2010
A. Pendahuluan
MTs. Baitis Salmah merupakan salah satu bentuk satuan pendidikan yang memiliki peran strategis dalam membangun, membentuk, membina, dan mengarahkan anak didik menjadi manusia seutuhnya. Yakni manusia yang memiliki karakter dan kepribadian positif, manusia yang mampu memahami diri sendiri dan orang lain, manusia yang trampil hidupnya, manusia yang mandiri dan bertanggung jawab, dan manusia yang mau dan mampu berperan serta dan bekerja sama dengan orang lain.
Untuk itu MTs. Baitis Salmah mencoba menerapkan sistem terpadu yang mengarah pada penerapan program berstandar nasional. Yang dimaksud program terpadu adalah program yang memadukan antara program pendidikan umum dan pendidikan agama, antara pengembangan potensi intelektual, emosional dan fisik, serta antara sekolah, orang tua dan masyarakat sebagai pihak yang memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap dunia pendidikan.
Pemaduan program pendidikan umum dan agama dilakukan secara kuantitaf dan kualitatif. Secara kuantitatif artinya porsi program pendidikan umum dan program pendidikan agama diberikan secara seimbang. Sedang secara kualitatif berarti pendidikan umum diperkaya dengan nilai-nilai agama melalui kegiatan pembinaan kerohanian. Dan pendidikan agama diperkaya dengan muatan-muatan yang ada dalam pendidikan umum. Nilai-nilai agama memberikan makna dan semangat terhadap programpendidikan umum.
Potensi dasar yang dimiliki manusia seperti: potensi intelektual, emosional, dan fisik merupakan anugerah Tuhan yang perlu ditumbuh-kembangkan, dibina, dan diarahkan dengan baik, secara benar dan seimbang. Program pendidikan terpadu ini diharapkan menjadi salah satusarana untuk menumbuhkan, mengembangkan, membina, dan mengarahkan potensi-potensi dasar yang dimiliki anak didik tersebut.
Oleh karena itu pendidikan merupakan tugas dan tanggung jawab orang tua, sekolah, dan masyarakat. Sekolah sebagai sebuah institusi adalah pelaksana langsung
proses pendidikan. Sedang orang tua dan masyarakat sebagai pihak pengguna dan penikmat hasil pendidikan perlu diberdayakan.
Pemberdayaan orang tua dan masyarakat dalam proses pendidikan dititik beratkan pada peran serta mereka dalam penyamaan perlakuan terhadap anak didik serta dalam jalannya proses pendidikan. Mereka bisa menjadi fasilitator, evaluator, donatur bahkan menjadi sumber belajar. Program pendidikan terpadu menjadi salah satu wahana untuk mengoptimalkan tugas dan tanggung jawab orang tua, sekolah dan masyarakat terhadap dunia pendidikan.
B. Sejarah singkat
MTs. Baitis Salmah didirikan oleh Yayasan Baitis Salmah pada tahun 1984. Yayasan Baitis Salmah merupakan wakaf dari Bapak H. Ali Muhammad, seorang pengusaha yang tinggal di Jakarta.
Pada mulanya Yayasan Baitis Salmah hanya membawahi masjid Baitis Salmah dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Baitis Salmah. Namun melihat realitas bahwa ketika itu banyak lulusan SD/MI di sekitar wilayah Tegal rotan yang tidak tertampung di sekolah lanjutan tingkat pertama yang letaknya jauh dan sulit terjangkau dengan transportasi, maka Yayasan berinisiatif untuk mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) guna menampung para lulusan tersebut.
Tahun ajaran 1984/1985 MTs. Baitis Salmah untuk pertama kalinya menerima siswa baru dengan jumlah 29 siswa. Kini siswa siswi MTs. Baitis Salmah berjumlah 138 siswa .
C. Susunan Pengurus Yayasan Baitis Salmah
Ketua : H. Ali Muhammad
Wakil : H. Firdaus SH
Sekretaris : Drs. Karim Ja'far
Bendahara : H. Saleh (alm)
D. Visi MTs. Baitis Salmah
MTs. Baitis Salmah dibangun atas dasar keyakinan, bahwa proses pendidikan bertolak dari dan menuju fitrah manusia yang hakiki sebagai mahkuk Tuhan. Artinya, pendidikan merupakan proses pencarian jati diri manusia dan proses memanusiakan manusia. Pendidikan membangun kesadaran kepada manusia tentang; siapa yang menjadikan manusia itu ada, dari mana manusia itu berasal, dan apa tugas manusia di bumi ini? Dalam proses pendidikan manusia diposisikan dan diperlakukan sebagai manusia, yang memiliki potensi, ciri dan karakteristik yang unik. Maka dalam proses memanusiakan manusia itu harus sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah, yang menjadikan manusia itu ada.
Oleh karena itu visi MTs. Baitis Salmah adalah :
"Membentuk manusia berakhlak mulia yang mampu mengembangkan imtaq, iptek dan bermanfaat bagi lingkungannya"
E. Misi MTs. Baitis Salmah
1. Menjadi wahana konservasi nilai-nilai ajaran Islam yang dibawa, diajarkan, dan dicontohkan Nabi Muhammad Saw.
2. Menjadi wahana dalam membangun, menumbuhkan, mengembangkan, membentuk, membina, dan mengarahkan potensi dasar anak didik.
3. Menjadi mediator dalam menghantarkan anak didik memasuki zaman, sejarah, dan tantangan yang akan dihadapinya.
F. Tujuan Pendidikan MTs. Baitis Salmah
1. Menumbuhkembangkan, membentuk, dan mengarahkan anak didik menjadi manusia yang baik secara individual dan sosial
2. Memberikan kemampuan dasar kepada anak didik berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap terpuji sesuai usia perkembangannya sebagai bekal hidup dan kehidupannya.
G. Karakteristik Siswa
1. Aqidahnya benar
2. Ibadahnya benar
3. Akhlaknya mulia
4. Akal budinya cerdas
5. Berbadan sehat dan kuat
6. Dekat dan cinta dengan Al Qur'an
7. Bersikap positif: santun, toleran, jujur, berani, disiplin, rajin, cinta kasih sesama
8. Bertindak kreatif: terampil, mandiri dan bertanggung jawab,
H. Sistem Sekolah
Sejalan dengan visi, misi, dan tujuan yang dipaparkan di atas, MTs. Baitis Salmah dirancang dengan sistem terpadu yang memungkinkan siswa mengembangkan potensi dasarnya secara terpadu, terus menerus dan berkesinambungan. Guru tidak hanya berperan sebagi pengajar, tetapi juga sebagai pendidik setia yang memahami perkembangan siswa. Guru dituntut menjadi sumber keteladanan yang nyata bagi siswa.
Lingkungan pendidikan dirancang sebagai masyarakat belajar (learning society) sehingga siswa berinteraksi secara simbiosis mutualistik; saling mengingatkan, siap menjadi pelajar dan sekaligus menjadi pengajar.
Proses pendidikan senantiasa diwarnai nuansa religius sehingga membentuk karakter keberagamaan yang baik. Hal ini tidak terlepas dari optimalisasi fungsi sekolah sebagai media dan sentra kegiatan siswa. Orang tua diikutsertakan secara aktif dalam membantu penyelenggaraan pendidikan. Mereka berperan sebagai partner dalam penyelenggaraan pendidikan .
I. Kurikulum
Kurikulum MTs. Baitis Salmah mengacu pada kurikulum Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia dan diintegrasikan dengan muatan-muatan pendidikan Islam. Kurikulum MTs. Baitis Salmah adalah sebagai berikut :
NO MATA PELAJARAN KELAS KKM
VII VIII IX
1 Pendidikan Agama Islam :
a. Qur'an Hadist 2 2 2 60
b. Aqidah Akhlak 2 2 2 60
c. Fiqih 2 2 2 60
d. Bahasa Arab 3 3 3 56
e. Sejarah Kebudayaan Islam 2 2 2 60
2 Bahasa Indonesia 4 4 4 65
3 Matematika 4 4 4 55
4 Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2 70
5 Ilmu Pengetahuan Alam 5 5 5 60
6 Ilmu Pengetahuan Sosial 4 4 4 60
7 Seni Budaya 2 2 2 60
8 Pendidikan Jasmani 2 2 2 60
9 Bahasa Inggris 4 4 4 56
10 Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) 2 2 2 60
11 Muatan Lokal
a. Baca Tulis Qur'an 2 2 2 60
b. Kaligrafi 2 2 2 60
12 Pengembangan Diri 2 2 2 60
JUMLAH 42 42 42
J. Kegiatan Pengembangan Diri atau Ekstra Kurikuler
Kegiatan ekstra kurikuler di MTs. Baitis Salmah terdiri dari :
1. Marawist,
2. Muhadhoroh,
3. Drum band,
4. Pramuka,
5. Pencak Silat, dan
6. Paskibra.
K. Waktu Belajar
Proses belajar mengajar pada tahun pelajaran 2009/2010 ini berlangsung selama 6 (enam) hari setiap pekan yang dimulai pada pukul 12.30 s.d. 17.30.
L. Tenaga Pendidik
MTs. Baitis Salmah diasuh oleh para guru yang siap menjadi pendidik dan siap menjadi peserta didik. Mereka adalah tenaga profesional lulusan S1 dan S2 dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta.
Berikut ini adalah daftar nama guru mata pelajaran :
NO NAMA GURU
DAN STAF JABATAN MATA
PELAJARAN PENDIDIKAN
1 Abdullah HA., S.Pd Kepala Sekolah S1
2 Yusep Prihanto, S.Pd Wk. Kurikulum IPS/B.Inggris S1
3 Drs. Naidin Guru B. Arab S1
4 Ahmad Taufiq, S.Ag Guru B. Arab S1
5 Qur'an Hadist
6 Drs. R. Mardanih Guru B. Indonesia S1
7 Abasrullah, SmHk Guru IPS S1
8 Zaelani, A.Md Guru B. Inggris S1
9 Mardalih, SE Guru PPKn S1
10 Leni Herlina, S.Pd Guru Seni Budaya S1
11 Reri Rotasia, STP Guru Matematika S1
12 Restuwati, S.Pd Guru B. Indonesia S1
13 Sa'dullah, S.Ag Guru Aqidah Akhlak S1
14 Rismawati, SPd Guru IPA S1
15 Khotib, S.Pd Pembina OSIS Fiqih S1
16 Heriyanto, S.Pd Guru Penjaskes S1
17 Nata, S.PdI Guru Mulok S1
18 A. Rojak Pemb. Pramuka
19 Asman Pemb. Paskibra
20 Kiki Pemb.Drumband
21 Suti Rahayu, S.Pd Tata Usaha/Guru S1
22 A. Tajudin Tata Usaha/Guru Tikom
M. Keadaan Umum Sekolah
1. Keadaan Siswa
Tahun Pelajaran Jumlah Calon Siswa Baru Kelas VII Kelas VIII Kelas IX Total
Jml Siswa Jml
Kls Jml Siswa Jml
Kls Jml Siswa Jml
Kls Siswa Kls
2004/2005
2005/2006
2006/2007
2007/2008
2008/2009
2. Keadaan Personil
NO KEADAAN STATUS PENDIDIKAN
PNS HONORER
1 Kepala Sekolah
2 Guru
3 Pegawai TU
4 Karyawan
3. Keadaan Sarana dan Prasarana
a. Tanah
Tanah milik yayasan seluas 4.494 m2, terdiri dari :
1. Bersertifikat : 3494 m2
2. Belum bersertifikat : 1000 m2
b. Bangunan
1. Bangunan fisik seluas 1500 m2 (satu lantai), terdiri dari :
NO JENIS BANGUNAN JMLYG ADA KEBUTUHAN KONDISI
BAIK RUSAK KURANG
1 Ruang Belajar
2 Perpustakaan
3 Lab IPA
4 Multimedia
5 Lab Komputer
6 R. Kepala Sekolah
7 R. Wakasek
8 Ruang Guru
9 R. Tata Usaha
10 Ruang Tamu
11 Gudang
12 Dapur
13 KM/WC Guru
14 KM/WC Siswa
15 Ruang BK/BP
16 Ruang UKS
17 Ruang PMR/Pramuka
18 Ruang Osis
19 Ruang Ibadah
20 Ruang Koperasi
21 Bangsal Kendaraan
22 Pos Jaga
23 Lap. Basket
24 Lap. Volley
25 Lap. Upacara
2. Kondisi fisik bangunan sudah sangat tua dan membutuhkan renovasi
3. Bangunan sekolah/ruangan/kelas dipergunakan oleh 2 (dua) jenjang pendidikan yaitu : Madrasah Ibtidaiyah (pagi hari) dan Madrasah Tsanawiyah (sore hari).
4. Lapangan olah raga sleuas 300 m2 (volleyball dan basket ball)
NO SARANA/PRASARANA JML YG ADA KEBUTUHAN KONDISI
BAIK RUSAK KURANG
1 Meja Siswa
2 Kursi Siswa
3 Meja Guru
4 Kursi Guru
5 Lemari Arsip
6 Meja Kantor
7 Meja Kepsek
8 Meja Wakasek
9 Meja TU
10 Lemari Brangkas
11 Lemari Ruang guru
12 Loker Guru
13 Televisi
14 Kipas angin
15 Komputer TU
16 Komputer Lab
17 Mikrofon
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
N. Prestasi Yang Telah dicapai
1. Bidang Akademis
Dalam bidang akademis, siswa MTs. Baitis Salmah memiliki nilai rata-rata 7,00 untuk seluruh mata pelajaran.
2. Bidang Non Akademis
MTs. Baitis Salmah telah banyak memiliki prestasi dalam beberapa kejuaraan seperti :
1. Juara I Lomba
2. Juara 2 Lomba
3. Juara 3 Lomba
4. Juara 4 Lomba
O. Peran Serta Orang Tua dan Komite Sekolah
Pendidikan merupakan tugas dan tanggung jawab orang tua, sekolah, dan masyarakat. Orang tua sebagai pihak pengguna dan penikmat hasil pendidikan memiliki tugas yang sama dalam mendidik anak. Sekolah dan orang tua melakukan penyelarasan visi, misi, strategi, tujuan dan sasaran pendidikan. Hubungan antar keduanya bersifat mutualistik untuk mewujudkan kerjasama yang produktif, saling pengertian dan atas dasar pembagian wilayah kerja. Media untuk menjembatani terciptanya hubungan tersebut adalah Komite Sekolah.
Melalui Komite Sekolah, orang tua / wali murid dapat memainkan peran dalam membantu kelancaran proses pendidikan, memberikan masukan, saran, tanggapan, gagasan dan melakukan evaluasi terhadap jalannya proses pendidikan di MTs. Baitis Salmah. Komite Sekolah merupakan bagian integral dari struktur lembaga pendidikan.
P. Beasiswa dan Keringanan Biaya
1. MTs. Baitis Salmah memberikan beasiswa selama 1 tahun kepada siswa siswi yang memiliki nilai akademis tertinggi secara keseluruhan.
2. MTs. Baitis Salmah memberikan keringanan biaya dan mencarikan orang tua asuh bagi siswa-siswi yang kemampuan ekonominya lemah atau tidak mampu.
3. MTs. Baitis Salmah telah bekerja sama dengan beberapa lembaga yang memberi bantuan biaya bagi mereka yang tidak mampu., seperti Masjid Raya Bintaro Sektor IX.
4. Anak yatim diberikan keringanan untuk membayar separuh biaya dan diberikan santunan pada waktu-waktu tertentu.
Q. Nilai Lebih MTs. Baitis Salmah
1. Siswa mendapatkan pendidikan umum yang penuh dengan nuansa keislaman.
2. Siswa mendapatkan pendidikan agama Islam secara aplikatif dan teoritis.
3. Siswa mendapatkan pendidikan dan bimbingan ibadah praktis (doa, shalat dan dzikir, cara makan/minum, dll)
4. Siswa mendapat pelajaran dan bimbingan cara baca dan menghapal Al Qur'an secara tartil.
5. Siswa dapat menyalurkan potensi dirinya melalui kegiatan ekstrakurikuler.
6. Perkembangan bakat, minat, dan kecerdasan siswa diantisipasi sejak dini
7. Pengaruh negatif dari luar sekolah dapat diminimalisir
8. Bagi orang tua yang sibuk MTs. Baitis Salmah merupakan solusi untuk pembinaan kepribadian putra-putrinya.
9. Siswa mendapatkan pendidikan bagaimana cara hidup bersama dengan orang lain.
R. Tata Tertib Siswa MTs. Baitis Salmah
SKOR PELANGGARAN SISWA
NO JENIS PELANGGARAN SKOR SANKSI
1 Menyalahgunakan uang SPP 2 Panggilan Orang tua
2 Berpindah-pindah tempat duduk - Teguran
3 Keluar masuk pada saat pergantian jam pelajaran - Teguran
4 Memakai jaket tanpa izin atau kecuali sakit - Teguran
5 Memakai kaos oblong - Teguran
6 Memakai sandal pada saat KBM - Teguran
7 Mencorat-coret tas - Disita
8 Tidak memakai seragam yang berlaku 2 Ditegur, dipulangkan
9 Pakaian tipis dan tembus pandang 2 Ditegur, dipulangkan
10 Pakaian ketat dan membentuk lekuk tubuh 2 Ditegur, dipulangkan
11 Pakaian bawah tidak sesuai dengan bagian atas - Ditegur, dipulangkan
12 Pakaian bawah berbahan jeans - Ditegur, dipulangkan
13 Baju tidak berkerah - Ditegur, dipulangkan
14 Baju tidak ada salah satu emblem sekolah 2 Teguran
15 Baju ada coret-coretan dan tulisan lain 3 Teguran
16 Lengan baju kurang atau lebih dari siku 1 Teguran
17 Berkerudung tapi tidak berlengan panjang - Teguran
18 Baju tidak sopan dan ketat 1 Teguran
19 Kaos dalam bercorak 2 Disita
20 Baju tidak dimasukan dengan rapi 1 Teguran
21 Lengan baju dilipat - Teguran
22 Kancing baju tidak lengkap - Teguran
23 Celana tidak sopan dan ketat 2 Teguran
24 Celana hingga ke lutut dan bersambung 2 Teguran
25 Bagian tepi celana tidak dijahit - Teguran
26 Di celana ada coretan dan tulisan 3 Teguran
27 Semua saku tidak terpasang rapi dan tidak standar - Teguran
28 Rok tidak sopan dan ketat 1 Teguran
29 Rok tidak sampai /di atas mata kaki 2 Teguran
30 Rok ada coretan dan tulisan 3 Teguran
31 Tidak memakai dasi 1 Teguran
32 Tidak memakai ikat pinggang hitam 1 Teguran
33 Tidak berkaos kaki putih 1 Teguran
34 Tidak memakai sepatu warna hitam 2 Disita
35 Tidak memakai topi pada saat upacara 2 Teguran
36 Tidak memakai pakaian olah raga pada saat pelajaran olah raga 5 Teguran
37 Terlambat 10 menit atau lebih 1 Teguran
38 Tidak mengikuti pelajaran yang diberikan 1 Teguran
39 Tidak membawa buku pelajaran yang diajarkan 1 Teguran
40 Tidak mengerjakan PR 1 Teguran
41 Berada di luar kelas ketika tidak ada guru tanpa izin - Teguran
42 Keluar halaman sekolah tanpa izin - Teguran
43 Tidak hadir 3 hari berturut-turut tanpa keterangan 2 Teguran
44 Tidak mengikuti kegiatan evaluasi belajar 2 Teguran
45 Terlambat masuk kelas usai istirahat - Teguran
46 Membuang sampah tidak pada tempatnya 2 Teguran
47 Memakai sandal pada saat KBM tanpa izin 2 Ditegur, dipulangkan
48 Membawa penggaris logam/stainless tanpa izin 1 Disita
49 Membawa benda-benda seperti kaset, VCD, DVD. LCD, cat pilok, korek api, tip ex, hand phone dan sejenisnya kecuali atas perintah guru. 2 Disita
50 Membawa kendaraan bermotor ke sekolah 5 Disita
51 Memasuki Ruang Kepala Sekolah dan Ruang Guru dan ruang lainnya tanpa izin - Teguran
52 Merusak dan mencorat-coret sarana sekolah (meja, kursi, kaca, pintu, dinding) atau sarana lain yang terdapat di lingkungan sekolah. 5 Membersihkan dan mengganti
53 Memakai pewarna rambut - Teguran
54 Berambut panjang (gondrong), berkuku panjang dan memakai perhiasan atau aksesoris kalung, anting, gelang - Teguran dan dipotong
55 Menindik telinga atau bagian-bagian tubuh lainnya Teguran, disita
56 Membawa dan memakai perhiasan, ber-make-up, atau sejenisnya kecuali bedak tipis, bercat kuku (cutek), berpakaian mini dan ketat, rambut panjang melewati bahu harus diikat. - Teguran,
57 Menindik telinga lebih dari semestinya (perempuan) 3 Teguran, disita
58 Mengambil/mencuri barang milik sekolah/guru/karyawan/teman 20 Panggilan Orang tua
59 Membawa bacaan atau benda-benda yang bersifat pornografi. 20 Panggilan Orang tua
60 Membawa senjata tajam, senjata api dan senjata lainnya yang membahayakan, kecuali ada tugas dari guru mata pelajaran tertentu. 20 Panggilan Orang tua
61 Merokok, membawa minum-minuman keras. 10 Panggilan Orang tua
62 Menghasut, menghimpun, memprovokasi untuk bertengkar, berkelahi secara perorangan maupun kelompok di dalam maupun di luar sekolah, baik sebagai provokator, pelaku utama, simpatisan atau pelindung pelaku kejahatan 50 Panggilan orang tua
63 Melakukan perjudian dalam bentuk apa pun 20 Panggilan orang tua
64 Melakukan tindakan asusila atau pelecehan seksual seperti menyentuh, meraba, memegang dengan sengaja bagian yang tidak boleh dipegang, berpelukan atau berciuman 20 Panggilan orang tua
65 Menikah atau hamil di luar nikah atau ditengarai melakukan hubungan seksual baik di dalam maupun di luar sekolah 100 Dikembalikan ke orang tua/wali
66 Terlibat dalam jaringan penggunaan narkoba berbagai jenis 100 Dikembalikan ke orang tua/wali
MTs. Baitis Salmah merupakan salah satu bentuk satuan pendidikan yang memiliki peran strategis dalam membangun, membentuk, membina, dan mengarahkan anak didik menjadi manusia seutuhnya. Yakni manusia yang memiliki karakter dan kepribadian positif, manusia yang mampu memahami diri sendiri dan orang lain, manusia yang trampil hidupnya, manusia yang mandiri dan bertanggung jawab, dan manusia yang mau dan mampu berperan serta dan bekerja sama dengan orang lain.
Untuk itu MTs. Baitis Salmah mencoba menerapkan sistem terpadu yang mengarah pada penerapan program berstandar nasional. Yang dimaksud program terpadu adalah program yang memadukan antara program pendidikan umum dan pendidikan agama, antara pengembangan potensi intelektual, emosional dan fisik, serta antara sekolah, orang tua dan masyarakat sebagai pihak yang memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap dunia pendidikan.
Pemaduan program pendidikan umum dan agama dilakukan secara kuantitaf dan kualitatif. Secara kuantitatif artinya porsi program pendidikan umum dan program pendidikan agama diberikan secara seimbang. Sedang secara kualitatif berarti pendidikan umum diperkaya dengan nilai-nilai agama melalui kegiatan pembinaan kerohanian. Dan pendidikan agama diperkaya dengan muatan-muatan yang ada dalam pendidikan umum. Nilai-nilai agama memberikan makna dan semangat terhadap programpendidikan umum.
Potensi dasar yang dimiliki manusia seperti: potensi intelektual, emosional, dan fisik merupakan anugerah Tuhan yang perlu ditumbuh-kembangkan, dibina, dan diarahkan dengan baik, secara benar dan seimbang. Program pendidikan terpadu ini diharapkan menjadi salah satusarana untuk menumbuhkan, mengembangkan, membina, dan mengarahkan potensi-potensi dasar yang dimiliki anak didik tersebut.
Oleh karena itu pendidikan merupakan tugas dan tanggung jawab orang tua, sekolah, dan masyarakat. Sekolah sebagai sebuah institusi adalah pelaksana langsung
proses pendidikan. Sedang orang tua dan masyarakat sebagai pihak pengguna dan penikmat hasil pendidikan perlu diberdayakan.
Pemberdayaan orang tua dan masyarakat dalam proses pendidikan dititik beratkan pada peran serta mereka dalam penyamaan perlakuan terhadap anak didik serta dalam jalannya proses pendidikan. Mereka bisa menjadi fasilitator, evaluator, donatur bahkan menjadi sumber belajar. Program pendidikan terpadu menjadi salah satu wahana untuk mengoptimalkan tugas dan tanggung jawab orang tua, sekolah dan masyarakat terhadap dunia pendidikan.
B. Sejarah singkat
MTs. Baitis Salmah didirikan oleh Yayasan Baitis Salmah pada tahun 1984. Yayasan Baitis Salmah merupakan wakaf dari Bapak H. Ali Muhammad, seorang pengusaha yang tinggal di Jakarta.
Pada mulanya Yayasan Baitis Salmah hanya membawahi masjid Baitis Salmah dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Baitis Salmah. Namun melihat realitas bahwa ketika itu banyak lulusan SD/MI di sekitar wilayah Tegal rotan yang tidak tertampung di sekolah lanjutan tingkat pertama yang letaknya jauh dan sulit terjangkau dengan transportasi, maka Yayasan berinisiatif untuk mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) guna menampung para lulusan tersebut.
Tahun ajaran 1984/1985 MTs. Baitis Salmah untuk pertama kalinya menerima siswa baru dengan jumlah 29 siswa. Kini siswa siswi MTs. Baitis Salmah berjumlah 138 siswa .
C. Susunan Pengurus Yayasan Baitis Salmah
Ketua : H. Ali Muhammad
Wakil : H. Firdaus SH
Sekretaris : Drs. Karim Ja'far
Bendahara : H. Saleh (alm)
D. Visi MTs. Baitis Salmah
MTs. Baitis Salmah dibangun atas dasar keyakinan, bahwa proses pendidikan bertolak dari dan menuju fitrah manusia yang hakiki sebagai mahkuk Tuhan. Artinya, pendidikan merupakan proses pencarian jati diri manusia dan proses memanusiakan manusia. Pendidikan membangun kesadaran kepada manusia tentang; siapa yang menjadikan manusia itu ada, dari mana manusia itu berasal, dan apa tugas manusia di bumi ini? Dalam proses pendidikan manusia diposisikan dan diperlakukan sebagai manusia, yang memiliki potensi, ciri dan karakteristik yang unik. Maka dalam proses memanusiakan manusia itu harus sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah, yang menjadikan manusia itu ada.
Oleh karena itu visi MTs. Baitis Salmah adalah :
"Membentuk manusia berakhlak mulia yang mampu mengembangkan imtaq, iptek dan bermanfaat bagi lingkungannya"
E. Misi MTs. Baitis Salmah
1. Menjadi wahana konservasi nilai-nilai ajaran Islam yang dibawa, diajarkan, dan dicontohkan Nabi Muhammad Saw.
2. Menjadi wahana dalam membangun, menumbuhkan, mengembangkan, membentuk, membina, dan mengarahkan potensi dasar anak didik.
3. Menjadi mediator dalam menghantarkan anak didik memasuki zaman, sejarah, dan tantangan yang akan dihadapinya.
F. Tujuan Pendidikan MTs. Baitis Salmah
1. Menumbuhkembangkan, membentuk, dan mengarahkan anak didik menjadi manusia yang baik secara individual dan sosial
2. Memberikan kemampuan dasar kepada anak didik berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap terpuji sesuai usia perkembangannya sebagai bekal hidup dan kehidupannya.
G. Karakteristik Siswa
1. Aqidahnya benar
2. Ibadahnya benar
3. Akhlaknya mulia
4. Akal budinya cerdas
5. Berbadan sehat dan kuat
6. Dekat dan cinta dengan Al Qur'an
7. Bersikap positif: santun, toleran, jujur, berani, disiplin, rajin, cinta kasih sesama
8. Bertindak kreatif: terampil, mandiri dan bertanggung jawab,
H. Sistem Sekolah
Sejalan dengan visi, misi, dan tujuan yang dipaparkan di atas, MTs. Baitis Salmah dirancang dengan sistem terpadu yang memungkinkan siswa mengembangkan potensi dasarnya secara terpadu, terus menerus dan berkesinambungan. Guru tidak hanya berperan sebagi pengajar, tetapi juga sebagai pendidik setia yang memahami perkembangan siswa. Guru dituntut menjadi sumber keteladanan yang nyata bagi siswa.
Lingkungan pendidikan dirancang sebagai masyarakat belajar (learning society) sehingga siswa berinteraksi secara simbiosis mutualistik; saling mengingatkan, siap menjadi pelajar dan sekaligus menjadi pengajar.
Proses pendidikan senantiasa diwarnai nuansa religius sehingga membentuk karakter keberagamaan yang baik. Hal ini tidak terlepas dari optimalisasi fungsi sekolah sebagai media dan sentra kegiatan siswa. Orang tua diikutsertakan secara aktif dalam membantu penyelenggaraan pendidikan. Mereka berperan sebagai partner dalam penyelenggaraan pendidikan .
I. Kurikulum
Kurikulum MTs. Baitis Salmah mengacu pada kurikulum Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia dan diintegrasikan dengan muatan-muatan pendidikan Islam. Kurikulum MTs. Baitis Salmah adalah sebagai berikut :
NO MATA PELAJARAN KELAS KKM
VII VIII IX
1 Pendidikan Agama Islam :
a. Qur'an Hadist 2 2 2 60
b. Aqidah Akhlak 2 2 2 60
c. Fiqih 2 2 2 60
d. Bahasa Arab 3 3 3 56
e. Sejarah Kebudayaan Islam 2 2 2 60
2 Bahasa Indonesia 4 4 4 65
3 Matematika 4 4 4 55
4 Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2 70
5 Ilmu Pengetahuan Alam 5 5 5 60
6 Ilmu Pengetahuan Sosial 4 4 4 60
7 Seni Budaya 2 2 2 60
8 Pendidikan Jasmani 2 2 2 60
9 Bahasa Inggris 4 4 4 56
10 Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) 2 2 2 60
11 Muatan Lokal
a. Baca Tulis Qur'an 2 2 2 60
b. Kaligrafi 2 2 2 60
12 Pengembangan Diri 2 2 2 60
JUMLAH 42 42 42
J. Kegiatan Pengembangan Diri atau Ekstra Kurikuler
Kegiatan ekstra kurikuler di MTs. Baitis Salmah terdiri dari :
1. Marawist,
2. Muhadhoroh,
3. Drum band,
4. Pramuka,
5. Pencak Silat, dan
6. Paskibra.
K. Waktu Belajar
Proses belajar mengajar pada tahun pelajaran 2009/2010 ini berlangsung selama 6 (enam) hari setiap pekan yang dimulai pada pukul 12.30 s.d. 17.30.
L. Tenaga Pendidik
MTs. Baitis Salmah diasuh oleh para guru yang siap menjadi pendidik dan siap menjadi peserta didik. Mereka adalah tenaga profesional lulusan S1 dan S2 dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta.
Berikut ini adalah daftar nama guru mata pelajaran :
NO NAMA GURU
DAN STAF JABATAN MATA
PELAJARAN PENDIDIKAN
1 Abdullah HA., S.Pd Kepala Sekolah S1
2 Yusep Prihanto, S.Pd Wk. Kurikulum IPS/B.Inggris S1
3 Drs. Naidin Guru B. Arab S1
4 Ahmad Taufiq, S.Ag Guru B. Arab S1
5 Qur'an Hadist
6 Drs. R. Mardanih Guru B. Indonesia S1
7 Abasrullah, SmHk Guru IPS S1
8 Zaelani, A.Md Guru B. Inggris S1
9 Mardalih, SE Guru PPKn S1
10 Leni Herlina, S.Pd Guru Seni Budaya S1
11 Reri Rotasia, STP Guru Matematika S1
12 Restuwati, S.Pd Guru B. Indonesia S1
13 Sa'dullah, S.Ag Guru Aqidah Akhlak S1
14 Rismawati, SPd Guru IPA S1
15 Khotib, S.Pd Pembina OSIS Fiqih S1
16 Heriyanto, S.Pd Guru Penjaskes S1
17 Nata, S.PdI Guru Mulok S1
18 A. Rojak Pemb. Pramuka
19 Asman Pemb. Paskibra
20 Kiki Pemb.Drumband
21 Suti Rahayu, S.Pd Tata Usaha/Guru S1
22 A. Tajudin Tata Usaha/Guru Tikom
M. Keadaan Umum Sekolah
1. Keadaan Siswa
Tahun Pelajaran Jumlah Calon Siswa Baru Kelas VII Kelas VIII Kelas IX Total
Jml Siswa Jml
Kls Jml Siswa Jml
Kls Jml Siswa Jml
Kls Siswa Kls
2004/2005
2005/2006
2006/2007
2007/2008
2008/2009
2. Keadaan Personil
NO KEADAAN STATUS PENDIDIKAN
PNS HONORER
1 Kepala Sekolah
2 Guru
3 Pegawai TU
4 Karyawan
3. Keadaan Sarana dan Prasarana
a. Tanah
Tanah milik yayasan seluas 4.494 m2, terdiri dari :
1. Bersertifikat : 3494 m2
2. Belum bersertifikat : 1000 m2
b. Bangunan
1. Bangunan fisik seluas 1500 m2 (satu lantai), terdiri dari :
NO JENIS BANGUNAN JMLYG ADA KEBUTUHAN KONDISI
BAIK RUSAK KURANG
1 Ruang Belajar
2 Perpustakaan
3 Lab IPA
4 Multimedia
5 Lab Komputer
6 R. Kepala Sekolah
7 R. Wakasek
8 Ruang Guru
9 R. Tata Usaha
10 Ruang Tamu
11 Gudang
12 Dapur
13 KM/WC Guru
14 KM/WC Siswa
15 Ruang BK/BP
16 Ruang UKS
17 Ruang PMR/Pramuka
18 Ruang Osis
19 Ruang Ibadah
20 Ruang Koperasi
21 Bangsal Kendaraan
22 Pos Jaga
23 Lap. Basket
24 Lap. Volley
25 Lap. Upacara
2. Kondisi fisik bangunan sudah sangat tua dan membutuhkan renovasi
3. Bangunan sekolah/ruangan/kelas dipergunakan oleh 2 (dua) jenjang pendidikan yaitu : Madrasah Ibtidaiyah (pagi hari) dan Madrasah Tsanawiyah (sore hari).
4. Lapangan olah raga sleuas 300 m2 (volleyball dan basket ball)
NO SARANA/PRASARANA JML YG ADA KEBUTUHAN KONDISI
BAIK RUSAK KURANG
1 Meja Siswa
2 Kursi Siswa
3 Meja Guru
4 Kursi Guru
5 Lemari Arsip
6 Meja Kantor
7 Meja Kepsek
8 Meja Wakasek
9 Meja TU
10 Lemari Brangkas
11 Lemari Ruang guru
12 Loker Guru
13 Televisi
14 Kipas angin
15 Komputer TU
16 Komputer Lab
17 Mikrofon
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
N. Prestasi Yang Telah dicapai
1. Bidang Akademis
Dalam bidang akademis, siswa MTs. Baitis Salmah memiliki nilai rata-rata 7,00 untuk seluruh mata pelajaran.
2. Bidang Non Akademis
MTs. Baitis Salmah telah banyak memiliki prestasi dalam beberapa kejuaraan seperti :
1. Juara I Lomba
2. Juara 2 Lomba
3. Juara 3 Lomba
4. Juara 4 Lomba
O. Peran Serta Orang Tua dan Komite Sekolah
Pendidikan merupakan tugas dan tanggung jawab orang tua, sekolah, dan masyarakat. Orang tua sebagai pihak pengguna dan penikmat hasil pendidikan memiliki tugas yang sama dalam mendidik anak. Sekolah dan orang tua melakukan penyelarasan visi, misi, strategi, tujuan dan sasaran pendidikan. Hubungan antar keduanya bersifat mutualistik untuk mewujudkan kerjasama yang produktif, saling pengertian dan atas dasar pembagian wilayah kerja. Media untuk menjembatani terciptanya hubungan tersebut adalah Komite Sekolah.
Melalui Komite Sekolah, orang tua / wali murid dapat memainkan peran dalam membantu kelancaran proses pendidikan, memberikan masukan, saran, tanggapan, gagasan dan melakukan evaluasi terhadap jalannya proses pendidikan di MTs. Baitis Salmah. Komite Sekolah merupakan bagian integral dari struktur lembaga pendidikan.
P. Beasiswa dan Keringanan Biaya
1. MTs. Baitis Salmah memberikan beasiswa selama 1 tahun kepada siswa siswi yang memiliki nilai akademis tertinggi secara keseluruhan.
2. MTs. Baitis Salmah memberikan keringanan biaya dan mencarikan orang tua asuh bagi siswa-siswi yang kemampuan ekonominya lemah atau tidak mampu.
3. MTs. Baitis Salmah telah bekerja sama dengan beberapa lembaga yang memberi bantuan biaya bagi mereka yang tidak mampu., seperti Masjid Raya Bintaro Sektor IX.
4. Anak yatim diberikan keringanan untuk membayar separuh biaya dan diberikan santunan pada waktu-waktu tertentu.
Q. Nilai Lebih MTs. Baitis Salmah
1. Siswa mendapatkan pendidikan umum yang penuh dengan nuansa keislaman.
2. Siswa mendapatkan pendidikan agama Islam secara aplikatif dan teoritis.
3. Siswa mendapatkan pendidikan dan bimbingan ibadah praktis (doa, shalat dan dzikir, cara makan/minum, dll)
4. Siswa mendapat pelajaran dan bimbingan cara baca dan menghapal Al Qur'an secara tartil.
5. Siswa dapat menyalurkan potensi dirinya melalui kegiatan ekstrakurikuler.
6. Perkembangan bakat, minat, dan kecerdasan siswa diantisipasi sejak dini
7. Pengaruh negatif dari luar sekolah dapat diminimalisir
8. Bagi orang tua yang sibuk MTs. Baitis Salmah merupakan solusi untuk pembinaan kepribadian putra-putrinya.
9. Siswa mendapatkan pendidikan bagaimana cara hidup bersama dengan orang lain.
R. Tata Tertib Siswa MTs. Baitis Salmah
SKOR PELANGGARAN SISWA
NO JENIS PELANGGARAN SKOR SANKSI
1 Menyalahgunakan uang SPP 2 Panggilan Orang tua
2 Berpindah-pindah tempat duduk - Teguran
3 Keluar masuk pada saat pergantian jam pelajaran - Teguran
4 Memakai jaket tanpa izin atau kecuali sakit - Teguran
5 Memakai kaos oblong - Teguran
6 Memakai sandal pada saat KBM - Teguran
7 Mencorat-coret tas - Disita
8 Tidak memakai seragam yang berlaku 2 Ditegur, dipulangkan
9 Pakaian tipis dan tembus pandang 2 Ditegur, dipulangkan
10 Pakaian ketat dan membentuk lekuk tubuh 2 Ditegur, dipulangkan
11 Pakaian bawah tidak sesuai dengan bagian atas - Ditegur, dipulangkan
12 Pakaian bawah berbahan jeans - Ditegur, dipulangkan
13 Baju tidak berkerah - Ditegur, dipulangkan
14 Baju tidak ada salah satu emblem sekolah 2 Teguran
15 Baju ada coret-coretan dan tulisan lain 3 Teguran
16 Lengan baju kurang atau lebih dari siku 1 Teguran
17 Berkerudung tapi tidak berlengan panjang - Teguran
18 Baju tidak sopan dan ketat 1 Teguran
19 Kaos dalam bercorak 2 Disita
20 Baju tidak dimasukan dengan rapi 1 Teguran
21 Lengan baju dilipat - Teguran
22 Kancing baju tidak lengkap - Teguran
23 Celana tidak sopan dan ketat 2 Teguran
24 Celana hingga ke lutut dan bersambung 2 Teguran
25 Bagian tepi celana tidak dijahit - Teguran
26 Di celana ada coretan dan tulisan 3 Teguran
27 Semua saku tidak terpasang rapi dan tidak standar - Teguran
28 Rok tidak sopan dan ketat 1 Teguran
29 Rok tidak sampai /di atas mata kaki 2 Teguran
30 Rok ada coretan dan tulisan 3 Teguran
31 Tidak memakai dasi 1 Teguran
32 Tidak memakai ikat pinggang hitam 1 Teguran
33 Tidak berkaos kaki putih 1 Teguran
34 Tidak memakai sepatu warna hitam 2 Disita
35 Tidak memakai topi pada saat upacara 2 Teguran
36 Tidak memakai pakaian olah raga pada saat pelajaran olah raga 5 Teguran
37 Terlambat 10 menit atau lebih 1 Teguran
38 Tidak mengikuti pelajaran yang diberikan 1 Teguran
39 Tidak membawa buku pelajaran yang diajarkan 1 Teguran
40 Tidak mengerjakan PR 1 Teguran
41 Berada di luar kelas ketika tidak ada guru tanpa izin - Teguran
42 Keluar halaman sekolah tanpa izin - Teguran
43 Tidak hadir 3 hari berturut-turut tanpa keterangan 2 Teguran
44 Tidak mengikuti kegiatan evaluasi belajar 2 Teguran
45 Terlambat masuk kelas usai istirahat - Teguran
46 Membuang sampah tidak pada tempatnya 2 Teguran
47 Memakai sandal pada saat KBM tanpa izin 2 Ditegur, dipulangkan
48 Membawa penggaris logam/stainless tanpa izin 1 Disita
49 Membawa benda-benda seperti kaset, VCD, DVD. LCD, cat pilok, korek api, tip ex, hand phone dan sejenisnya kecuali atas perintah guru. 2 Disita
50 Membawa kendaraan bermotor ke sekolah 5 Disita
51 Memasuki Ruang Kepala Sekolah dan Ruang Guru dan ruang lainnya tanpa izin - Teguran
52 Merusak dan mencorat-coret sarana sekolah (meja, kursi, kaca, pintu, dinding) atau sarana lain yang terdapat di lingkungan sekolah. 5 Membersihkan dan mengganti
53 Memakai pewarna rambut - Teguran
54 Berambut panjang (gondrong), berkuku panjang dan memakai perhiasan atau aksesoris kalung, anting, gelang - Teguran dan dipotong
55 Menindik telinga atau bagian-bagian tubuh lainnya Teguran, disita
56 Membawa dan memakai perhiasan, ber-make-up, atau sejenisnya kecuali bedak tipis, bercat kuku (cutek), berpakaian mini dan ketat, rambut panjang melewati bahu harus diikat. - Teguran,
57 Menindik telinga lebih dari semestinya (perempuan) 3 Teguran, disita
58 Mengambil/mencuri barang milik sekolah/guru/karyawan/teman 20 Panggilan Orang tua
59 Membawa bacaan atau benda-benda yang bersifat pornografi. 20 Panggilan Orang tua
60 Membawa senjata tajam, senjata api dan senjata lainnya yang membahayakan, kecuali ada tugas dari guru mata pelajaran tertentu. 20 Panggilan Orang tua
61 Merokok, membawa minum-minuman keras. 10 Panggilan Orang tua
62 Menghasut, menghimpun, memprovokasi untuk bertengkar, berkelahi secara perorangan maupun kelompok di dalam maupun di luar sekolah, baik sebagai provokator, pelaku utama, simpatisan atau pelindung pelaku kejahatan 50 Panggilan orang tua
63 Melakukan perjudian dalam bentuk apa pun 20 Panggilan orang tua
64 Melakukan tindakan asusila atau pelecehan seksual seperti menyentuh, meraba, memegang dengan sengaja bagian yang tidak boleh dipegang, berpelukan atau berciuman 20 Panggilan orang tua
65 Menikah atau hamil di luar nikah atau ditengarai melakukan hubungan seksual baik di dalam maupun di luar sekolah 100 Dikembalikan ke orang tua/wali
66 Terlibat dalam jaringan penggunaan narkoba berbagai jenis 100 Dikembalikan ke orang tua/wali
Monday, September 28, 2009
पेर्न्यातान सिकाप तेर्हड़प पेम्बकरण BUKU
PERNYATAAN SIKAPKAMI MENGECAM AKSI PEMBAKARAN BUKU!!Pekan lalu Front Anti Komunis di Surabaya membakar buku Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah karya Soemarsono. Guru Besar Ilmu Sejarah Prof. Dr. Aminuddin Kasdi ikut dalam pembakaran dan mengatakan bahwa sejarah adalah milik pemenang. Mereka membakar buku sebagai reaksi terhadap kolom serial wartawan Jawa Pos Dahlan Iskan tentang Soemarsono, "Soemarsono, Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya."Pembakaran buku kali ini bukan yang pertama. Pada Juli 2007 ribuan buku pelajaran sejarah dibakar Kejaksaan Negeri Depok. Pembakaran-pembakaran ini membuktikan adanya sekelompok orang yang tidak bisa menerima perbedaan pendapat.Kami prihatin dengan pembakaran buku itu kendati kami belum tentu sepenuhnya setuju dengan isi buku tersebut. Tapi kebebasan berpendapat, baik lisan maupun tulisan, dijamin oleh UUD 1945. Pembakaran buku Soemarsono mengulang kembali aksi fasisme Nazi yang juga membakar buku-buku karya Sigmund Freud, Albert Einstein, Thomas Mann, Jack London, HG Wells serta berbagai cendekiawan lain. Nazi menganggap buku sebagai musuh mereka.Kami prihatin aksi ini dilakukan oleh sekelompok orang, yang memakai nama Islam namun melakukan tindakan tercela pada bulan Ramadhan, bulan di mana Allah pertama kali menurunkan perintah membaca kepada Nabi Muhammad SAW. Buku semestinya dibaca, bukan untuk dibakar.Kami menyayangkan pernyataan Aminuddin Kasdi. Pernyataan sejarah hanya milik pemenang tak sepantasnya dikatakan oleh seorang guru besar ilmu sejarah. Penulisan sejarah semestinya mengedepankan keberimbangan fakta dan keberagaman versi, bukan monopoli satu versi praktik Orde rezim Baru.Oleh karena itu, atas dasar akal sehat dan kepercayaan pada demokrasi, kami menyatakan:PERTAMA, mengecam para pelaku pembakaran buku Revolusi Agustus: Kesaksian Seorang Pelaku Sejarah karya Soemarsono, dan menganggapnya sebagai tindakan fasistis, yang bertentangan dengan kemanusiaan dan upaya mencerdaskan masyarakat.KEDUA, menuntut kepada Presiden Republik Indonesia untuk menjamin kebebasan berpendapat dan menindak tegas mereka yang menciderai kebebasan sipil di Surabaya.KETIGA, menuntut dihentikannya tindakan pelarangan buku atas alasan apapun. Bila terdapat perbedaan pandangan, yang diwakili sebuah buku, hendaknya dijawab dengan menerbitkan buku baru, yang mencerminkan pandangan yang berbeda—bukan dengan larangan.Semoga demokrasi di Indonesia, yang baru ditanam benihnya, bisa berkembang sehat.Kami yang mendukung:A. Supardi Adiwidjaya (wartawan)A.K. SupriyantoAan Rusdianto (aktivis, PEC)Aboeprijadi Santoso (wartawan)Achmad FauziAch. Badrut Tamam, H (wagub LIRA Jawa Timur/koordinator jaringan intelektual muda jawa timur)Ahmad Sabiq (pengajar)Adi MulyanaAdrian MulyaAdhitya Maheswara (konsultan, Jakarta)Adyanto Aditomo (blogger, aktivis sosial)Adytia FajarAdityo LukitoAgung Ayu Ratih (Institut Sejarah Sosial Indonesia)Agung Cahyono Widi (wartawan)Agung Dwi Hartanto (pengelola taman bacaan)Agung van Joel NugrohoAgus Bejo Santoso (aktivis)Agust W (freelance)Ajianto Dwi NugrohoAkhriyadi Sofian (antropolog)Akmal Nasery Basral (wartawan)Albard Khan (Alumni Fakultas Hukum Universitas Jember)Alpha Savitri (pecinta buku)Alfian Syafril (mahasiswa, UGM)Amalia Pulungan (aktivis)Ambarum Sari (ibu rumah tanngga)Amir Al rahabAndi K Yuwono (aktivis Praxis)Andi S. Nugroho (wartawan)Andre J.O. Sumual (wartawan)Andreas Harsono (wartawan)Andreas Iswinarto (blogger, aktivis sosial)Andrew Jansen (pecinta buku, Bogor)Agung Arif W. Widodo (Mahasiswa Sejarah Unair)Anissa S Febrina (wartawan Jakarta Post)Anitra SitanggangAnjas Asmara (wartawan Trans7)Anton Septian (wartawan)Anton MuhajirAnton Dwi (pembaca bebas)Anugerah Perkasa (wartawan Bisnis Indonesia)Ambarum Sari (ibu rumah tangga)Ari Anggari Harapan (Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia)Ari TrismanaAri Yurino (Perhimpunan Rakyat Pekerja dan KontraS Aceh)Ari Junaedi (politikus)Ari ZullutfiAria W. Yudhistira (wartawan Seputar Indonesia)Arief SetiawanArif Gunawan Sulistyo (wartawan)Arif Harsana (Aktivis, Vorstand SOAI, Jerman)Arif Zulkifli (wartawan)Arif Sam K (Bekasi)AryatiAryo Yudanto (aktivis IKOHI Jawa Timur)Aryo Danusiri (Ragam)Asvi Warman Adam (sejarawan, ahli peneliti utama LIPI)AS MantoAsahan Alham (penulis, sastrawan, tinggal di Belanda)Asri Oktavianty WahonoAsep Sambodja (dosen FSUI, Jakarta)Asmin Fransiska (FH Atma Jaya Jakarta)Atta Sidharta (Perguruan Rakyat Merdeka, Jakarta)Ayu PurwaningsihB.I. Purwantari (Litbang Kompas)Badrus Sholeh (dosen UIN Syarief Hidayatullah, Jakarta)Bambang Bujono (penulis/wartawan)Bayu Gautama (buruh di Cikarang)Basil Triharyanto (wartawan)Baskara T Wardaya, Dr. (guru sejarah)Betrix Qiaumiddin (Green Radio, Jakarta)Bedjo Untung (Ketua YPKP 65)Beka Ulung HapsaraBen Abel (Perpustakaan Cornell University)Bengar GurningBenny G. Setiono (penulis)Bento MadubunBeta Ramses Yahya (Kedubes R.I. Maroko)Betty PurbaBJD. GayatriBilven (Ultimus Bandung)Bima Putra Ahdiat (pekerja grafis)Binny BuchoriBinbin Firman TresnadiBonnie Setiawan (Institute for Global Justice)Bonnie Triyana (sejarawan-cum- wartawan)Budi Setiyono (Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)Buyung HusnansyahBowo Usodo (Ketua Umum Jaringan Radio Komunitas Indonesia)Budi Wirawan (alumnus jurusan Sastra Indonesia, Undip. Menetap di Banjarmasin, Kalsel)Bustanul Arifin (aktivis Jaringan Videomaker Independen)Chan Chung Tak (pemerhati Indonesia)Chris Poerba (wartawan)Chris Wangkay (Co-ordinator- People’s Alliance for Debt Cancellation (GARPU)Chres TellaChalik Hamid (sastrawan, menetap di Belanda)Christofel Nalenan (JPPR, Jakarta)Cicilia Peggy MariskaCinde Laras YuliantoCoen Husain PontohCony Harseno (RIVER, Yogyakarta)Dandhy Dwi Laksono (wartawan)Dad Murniah, M. Hum (Pusat Bahasa, Depdiknas, Jakarta)Dadang Sudardja (Serikat Hijau Indonesia)Danial Indrakusuma (aktivis)Darma Ismayanto (wartawan)Darman Eka S. (Klp. Raksa Buana, Cianjur)Darmaningtyas (Praxis)Darul AqshaDas Albantani (pejuang EcoVillage)Dasa Rudiyanto (aktivis)David Leonardo HenryDede Oetomo (aktivis LGBTIQ)Dedi AhmadDedi Ali Ahmad (PBHI)Deddy Try Laksono (Kadalholict ArtWork)Denny Ardiansyah (penulis resensi buku)Derry Putera (wartawan)Desantara JoesoefDevi Fitria (wartawan)Devi Dwi Aribowo (Mahasiswa Sejarah Undip)Dian SetyawatiDian Fath Risalah (Undip)Diana AV Sasa (Penulis, Redaktur Pelaksana portal berita buku Indonesiabuku. com)Dini S. Setyowati (ibu dua anak di Amsterdam)Didi Kwartanada (sejarawan)Doreen LeeDwi S Budiono (wartawan Memorandum)E.S. Noorsabri (politisi, Jakarta)Eddy Purwanto (warga biasa)Edy Musyadad (Punden)Edu Manik (Freelance photographer, Jakarta)Edo SamanEdwin Nafarin (arsitek, Surabaya)Eep Saefulloh Fatah (pengamat politik, Dosen Fisip UI)Eko Rusdianto (wartawan)Ery Sandra Amelia (film maker)F. Budi Sanyoto (Pembaca Buku)Fahmi Faqih (penyair)Fahri Salam (wartawan)Fachruddin ArroziFaisol Riza (PKB)Fathuddin MuchtarFadjar Thufail (antropolog, peneliti tamu di Max Planck Institute, Jerman)Faiza Hidayati Mardzoeki (aktivis perempuan)Fendry PanombangFirdaus Cahyadi (Knowledge Sharing Officer-Yayasan SatuDunia)Firdaus MubarikFirliana Purwanti (Hivos)Fitri Andyaswuri (ibu rumah tangga, Yogyakarta)Frans Padak Demon (wartawan)Frans Anggal (Pemimpin Redaksi Harian Umum FLORES POS)Fransiska Ria Susanti (penulis-cum- jurnalis, Hong Kong)Fredy Wowor (Sastrawan,dosen)Florensia Octaviana (ibu rumah tangga)FX HarsonoGarda Sembiring (Koordinator People’s Empowerment Consortium/PEC)Grace Leksana (Institut Sejarah Sosial Indonesia)Gayatri Wedhotami (Mahasiswa Pascasarjana Paramadina, Jakarta)Gatot PrihandoonoGerry van Klinken, Dr. (sejarawan, KITLV, Leiden)Ging GinanjarGigin PraginantoGita TomtomGoenawan Mohamad (wartawan senior)Gola Gong (penulis dan aktivis di komunitas baca, Banten)Gunawan Hartono (politisi, Jogjakarta)Gustaf Dupe (Ketum Perhimpunan Pelayanan Penjara)Halim HD. (Networker Kebudayaan, Forum Pinilih, Solo)Hafiz (seniman – Forum Lenteng)Hamzah Sahal (PP Lakpesdam NU)Hardy R. HermawanHarris Palisuri (Aktivis SULUH Indonesia Institute- Sulawesi Tenggara)Hendayana Musaleft (Aktivis Komite Aksi Mahasiswa Pelajar Pemuda Cilograng, Banten)Hengky TompoHilmar Farid (sejarawan)Hinu Endro SayonoHendri F Isnaeni (peneliti PSIK Univ. Paramadina)Hepy NurwidiamokoHerman Kelen (Direktur eksekutif yayasan Aletheia – Kupang)Herlambang Perdana Wiratraman (Dosen Hukum Tata Negara dan HAM FH Unair)Heri Latief (penyair)I Wayan Gendo Suardana (aktivis HAM dan demokrasi)Ibrahim Isa (Wertheim Stichting, Belanda)Ignatius Haryanto (Lembaga Studi Pers dan Pembangunan)Ika Wahyu PriyaryaniIlang Tri Subekti (Mahasiswa Sejarah FIB UGM)Imam Nasima (peneliti PSHK)Imam Shofwan (wartawan)Imam WahyudiImas Nurhayati (Ecosisters)Imron Rosyid tr (jurnalis, Solo)Indah Nurmasari (wartawan)Indria Fernida (Wakil Koordinator KontraS)Inge MangalaIrham Ali Saifuddin (Pesantren Nurulhuda, Garut)Irina Dayasih (aktivis perempuan)Irma Dana (penulis)Irwansyah (Perhimpunan Rakyat Pekerja, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia)Irsan Husain (LEAD Syndicate)Ismar Indarsyah (LMND)Iswan Kaputra (Social Worker & Freelance Journalist)IwamardiIwan Samariansyah (wartawan)Iwan Nurdin (Deputi Riset dan Advokasi-Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA)JJ. Amstrong Sembiring (PBH KOMPARTA Indonsia)Jakobus E. Kurnawan (Program Director, Indonesia Centre for Responsive Politics-ICRP)Jeffrey Hadler (Departement of South and Southeast Asian Studies di Universitas California, Berkeley)Jefri Saragih (aktivis sosial)Johanes Lewi Nugroho (aktivis sosial)Joko Ariwibowo (LO Foker LSM Papua-Jakarta)John Pakage, aktivis PapuaJopi PeranginanginKanadianto (Penulis – Politisi)Khalisah Khalid (Aktifis Lingkungan Hidup)Krisno Winarno (mahasiswa Sejarah Undip, Semarang)Kunti PurwadiKuss Indarto (kurator seni rupa)Laela AchmadLailatus Saidah (Punden)Lawang BagjaLanjar (Praxis)Laili Zailani (direktur Institute for Democracy and Political Justice (INDEPOLIS), Jakarta)Lestari Wahyu WinarniLexy Rambadetta (produser film dokumenter)Lia Kusumowardhani (jurnalis, London)Lisa Febriyanti (produser film dokumenter)Lolly SuhentyLukmono Suryo NagoroMaulida Sri Handayani (Mahasiswa Filsafat Universitas Parahyangan)M. Abduh Aziz (Dewan Kesenian Jakarta)M. Akbar Wijaya (mahasiswa sejarah Undip, Semarang)M. Amin (penulis, tinggal di Belanda)M. Alwi Assagaf (Sulawesi Selatan)M. Azis Tunny (Maluku Media Centre (MMC)M. Berkah GamulyaM. Faishal Aminuddin (sejarawan, dosen Fisip Unibraw)M Hilaly Basya (Aktivis Muhammadiyah, studi di Leiden Universiteit)M. Taufiq AR (deputy program director di MAARIF Institute)M. Yamin Panca Setia (wartawan)Moch Nur Ichwan (Dosen UIN Sunan Kalijaga)MD Kartaprawira (LPK65, Nederland)M.F. Mukti (aktivis Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)Maeda YoppyMaria Dian NuraniMahmud Darzad (pecinta damai)Mahfud Rohman N (Wartawan Cenderawasih Pos Papua)Markus Kajoi (KIPRa Papua)Marlo SitompulMaruly Hendra Utama S.Sos.,M.SiMartin Alvino (copywriter, Jakarta)Manunggal K. Wardaya (FH UNSOED)Mawie Ananta Jonie (penyair eksil di negeri Belanda)Mia AmaliaMia Bustam (Penulis)Mia Wastuti (mahasiswi)Mira Wijaya KusumaMimmy KowelMoses Thomas (Koordinator pokjar MERAH PUTIH)Mugiyanto (IKOHI)Muhamad Djali (Punden)Mulyani HasanMulyadi (aktifis SARI Solo)Mukhlisin Sa’ad (dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Surabaya)Mundo (Praxis)Muslimin Abdila (Al Haraka, Jombang)Nastiti Lestari (Pascasarjana UGM)Nasution Camang (Yayasan Merah Putih (YMP) Palu-Sulawesi Tengah)Nezar Patria (Ketua Umum AJI)Ngurah Suryawan (sejarawan)Nita Ayu (Freelance Translator)Nila Ertina FM (jurnalis, Sumsel)Nong Darol Mahmada (aktivis)Nor Hiqmah (aktivis Yappika)Novaldi AzwardiNug Katjasungkana (aktivis)Nugroho Dewanto (wartawan)Nur Iskandar (wartawan,Pontianak )Nurul Kodriati (Health Economist)Nurul Khawari (Universitas Sebelas Maret Surakarta)Nurachman Iriyanto (Masyarakat Advokasi Warisan Budaya)Odi SalahudinOkti Lutfia (karyawati, Depok)Opin Tanati (wartawan, Papua)Pay Suwito (Punden)Palupi DamardiniPitono Adhi (Sanggar Bumi Tanam)Parawansa AssoniworaPatra M Zen (Direktur YLBHI)Poppy Ismalina (FE UGM)Pramu Adi Nugroho (alumnus Sejarah Undip, Semarang)Pratono (aktivis Kronik Filmedia Semarang)Purwadi DjunaediPutu Oka Sukanta (sastrawan)Putu Satria Kusuma (Sutradara Teater, komunitas desa Banyuning, Singaraja)Putri YunifaRTS Masli (ketua dewan pembina Yayasan Pantau)R. Nugroho Bayu Aji (alumnus Departemen Sejarah Unair, Surabaya)Rahung Nasution (film maker)Raimondus Arwalembun (LPSK)Radjimo Sastro Wijono (sejarawan, Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)Rahadi Al PaluriRahadian Permadi (Mahasiswa Sejarah, Melbourne University)Raja Juli Antoni (Direktur Eksekutif Maarif Institute)Ratna Saptari (dosen, universitas Leiden)Ratrikala Bhre Aditya (sineas muda)RamadhanesiaRandy Syahrizal(Gema Prodem)Razif (Sejarawan-Institut Sejarah Sosial Indonesia)Renta Morina Evita NababanRendro Prayogo (Sekjen Perhimpunan Rakyat Pekerja)Riaty Raffiudin (Peneliti dan Dosen Departemen Ilmu Politik FISIP UI)Rina Kusuma (Kehati)R. Miryanti (Lembaga Sastra Pembebasan)Ririn Sefsani (Walhi)Risda Siregar (karyawati, Jakarta)Riyan Aji NUgroho(Ikatan Mahasiswa Sejarah Seluruh Idonesia)Rivki Maulana Priatna (mahasiswa jurnalistik Fikom Unpad)Rudy Hb. Daman (pengurus DPP.Gabungan Serikat Buruh Independen)Rusydi Hikmawan (Aktivis pendidikan, blogger lombok)Rukardi Ahmadi (wartawan)Rumekso Setyadi (aktivis, Yogyakarta)Samuel Gultom (Yayasan Tifa)Saiful HaqSaiful Huda Shodiq (Syarikat Indonesia-Jawa Tengah)Saleh Abdullah (Insist, Jogjakarta)Sammy Ranie (blogger)Sandhyakala Wikan AnantabrataSapariah Saturi (wartawan)Sari Safitri MohanSaurlin Siagian (Bakumsu)Sijo Sudarsono (ISAI)Simon (IKOHI)Sinnal Blegur (IKOHI)Siswa Santoso (peneliti, alumnus Universiteit van Amsterdam)Sisto dos Santos (HAK-Timor Leste)Siti Maemunah (Jaringan Advokasi Tambang)Slamat Trisila (Sejarawan)Slamet OrtegaSri Lestari WahyuningroemSteve MustangSuar Suroso (penyair eksil, China)Sugandi SutionoSurya Ferdian (Anggota PBHI Jakarta (Mantan Staff Publikasi, Seknas PBHI)Suryati Simanjuntak (KSPPM, Medan)Suryo Susilo (Direktur FSAB (Forum Silaturahmi Anak Bangsa)Surya Tjandra (Universitas Atmajaya Jakarta)Susilo Adinegoro (Rektor-Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar)Sutini (Ketua Dewan Perwakilan Anggota HAPSARI (Himpunan Serikat Perempuan Indonesia) Sumut)Svetlana Dayani (karyawati, Jakarta)Syaldi Sahude (Yayasan Jurnal Perempuan)Syamsuddin RadjabSylvia Tiwon (Praxis)Taufik Andrie (wartawan)Tata Septayuda Purnama (wartawan)Taufik Wijaya (jurnalis & seniman)Teddy Ardianto HTedjabayu Sudjojono (ISAI)Teguh Santosa (wartawan)Thanding SariTheresia Mike Verawati (Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi)Th. J. Erlijna (Institut Sejarah Sosial Indonesia)Tia Mboeik (Watch Indonesia e.V.)Tjiu Hwa Jioe (pekerja media, Jakarta)Timer ManurungTomas FreitasTony Setiabudhi (Pusat Kajian Nasional Masalah Lanjut Usia)Tri Angganis A.D. (Praxis)Tri Agus Siswowiharjo (aktivis)Triana Dyah (Librarian)Triana Eva Christine (KAPAL Perempuan)Tri Okta Sulfa Kimiawan (anak Madiun)Trio Marpaung (wartawan Memorandum)Tuti Pujiarti (PBHI)Tyson Tirta (mahasiswa sejarah UI)Umar Said (wartawan senior, tinggal di Paris, Prancis)Usman Hamid (Koordinator- KontraS)Utami Hariyadi (pengajar)Veralin Septyana (karyawan swasta – periklanan)Victor Silaen (Dosen Fisipol UKI)Victor Mambor (Wartawan dan Pengelola Penerbit Papua Room)Wahyu Susilo (aktivis-cum- sejarawan)Waruno Mahdi (bahasawan dan sejarawan, menetap di Jerman)Web Warouw (Dewan Kesehatan Rakyat/Wartawan)Wening Adityasari (Alummi Sejarah UNDIP)Willy R. Wirantaprawira, Dr. (Executive Director ASEAN Institute, Jerman)Wilson (sejarawan)Wininti Rubay (BSD)Yacinta Kus Kurniasih (Dosen, Monash University)Yayan Wilujiharto (Film maker (Jaringan Videomaker independent / JAVIN)Y.L. Franky (aktivis)Y.T.Taher (pelaku sejarah, menetap di Australia)Y.R. Sukardi (Stichting Perhimpunan Dokumentasi Indonesia)Yanuar Nugroho (peneliti di Univ. Manchester, Inggris dan Business Watch Indonesia)Yerry Wirawan (mahasiswa PhD EHESS, Sorbone, Paris)Yudho Raharjo (wartawan)Yusep PrihantoYuna Ariyanthi (karyawati, Jakarta)Zen Rachmat Soegito (sejarawan)Zely Ariane (KPRM-PRD)
Wednesday, January 28, 2009
REDEVELOP PENDIDIKAN KESADARAN LINGKUNGAN
Oleh : Yusep Prihanto
Barangkali tak ada kata yang lebih tepat untuk kita ucapkan kepada diri kita kecuali kata "bebal". Kita sudah terantuk batu bukan lagi satu atau dua kali, tapi berkali-kali, dan kita belum juga menengadah. Tahun 2007 lalu kita katakan banjir besar yang menutupi wilayah kita adalah siklus lima tahunan, namun ternyata banjir besar itu datang kembali tahun 2008. Tak urung Presiden pun ikut merasakan getahnya dan fasilitas se-vital bandara Soekarno-Hatta harus terkena imbasnya. Lalu di awal tahun ini sudah berapa banyak wilayah yang terendam banjir.
Itu artinya musibah banjir bukan lagi siklus lima tahunan, mungkin telah berubah jadi siklus tahunan. Bahkan diprediksi bahwa kehadirannya sudah tak terbatas lagi pada ruang dan waktu, artinya kapan pun dan dengan volume air hujan yang sedikit pun, banjir dapat merendam kawasan tertentu.
Fenomena ini tentu saja sangat mengkhawatirkan bahkan boleh disebut darurat, dan karenanya harus segera di atasi. Bukan mustahil di masa depan tidak hanya Jakarta atau Jawa yang akan tenggelam, tapi juga seluruh negeri ini. Penanganannya pun harus komprehensif, bukan sepotong-sepotong. Dan itu butuh kerjasama dari semua pihak serta keberanian untuk berkorban. Sebab masalah ini bukan cuma tanggung jawab pemerintah: banjir adalah urusan seluruh umat manusia dengan alam. Karena itu butuh kearifan dan keseriusan pula dalam mengatasinya.
Jika mau jujur, masalah ini sebenarnya berawal dari kegagalan kita membina hubungan baik dengan alam. Tidak hanya secara transenden tapi juga realitasnya. Selama ini persahabatan kita dengan alam hanya terbatas pada bagaimana memperoleh profit sebesar-besarnya dengan mengeksploitasinya sedemikian rupa demi kepentingan jangka pendek dan nikmat sesaat. Tidak terpikir apakah besok keturunan kita masih dapat menikmati kehidupan lebih baik atau tidak. Pokoknya yang penting enjoyable.
Apalagi kita tidak mengindahkan peringatan-peringatan alam lain seperti gempa bumi atau tsunami, yang begitu mudah dilupakan. Amnesia kita terhadap bencana yang baru lalu tak membuat kita kapok. Bahkan membuat kita makin serakah: pembalakan ilegal, pembangunan hutan-hutan beton dan pemukiman, pereduksian terus menerus daerah resapan air dan taman penghijauan justru makin menjadi-jadi.
Anehnya semua itu kita perparah dengan sikap hidup yang amburadul: membuang sampah sembarangan, membangun bantaran sungai dan mempersempit ruang gerak air. Semua itu harus dibayar dengan ongkos sosial ekonomi yang mahal: tragedi kehidupan manusia yang menjadi sia-sia, akibat dari ketidakmampuan kita belajar pada alam yang seharusnya terkembang jadi guru.
Proses pembelajaran kita terhadap alam itu tidak lantas membuat kita bergerak cepat mencari dan menemukan akar persoalan yang menyebabkan tragedi tersebut untuk kemudian segera mengatasinya. Tetapi justru menundanya hingga kita memaksa pemerintah untuk segera mengatasinya. Padahal, sekali lagi, ini urusan kita bersama.
Barangkali ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan bahan analisis dan renungan :
1. Sikap individualisme dan egois
Semakin lama kita rasakan semakin lunturnya budaya kerjasama antar sesama. Budaya gotong royong yang sejak dulu dikenal sebagai bagian kehidupan masyarakat kita, telah kehilangan ruhnya. Kepentingan bersama yang dahulu selalu didengung-dengungkan harus berada di atas kepentingan pribadi, kini berbalik arah: kepentingan pribadi di atas segala-galanya.
Ini disebabkan oleh ideologi individulisme yang berkembang di kepala dan membuat kita bersikap egois yang hanya memikirkan diri sendiri bahkan jika perlu menguntungkan diri sendiri. Oleh karena gotong royong dianggap tidak memberi keuntungan dan cenderung membuang-buang waktu, maka ia tampak hambar tak bermakna. Ironisnya kerjasama membangun lingkungan tidak masuk kategori urusan pribadi tapi urusan umum dan bersifat fardhu kifayah: siapa pun yang melakukan yang penting ada.
2. Runtuhnya kesadaran dan peduli lingkungan
Sikap individualisme itulah yang kemudian membuat kita kehilangan sense of environment care. Kesadaran dan kecintaan terhadap lingkungan hanya terbatas pada wacana dan kata-kata, bukan pada tindakan ril. Lihat saja bagaimana sikap kita terhadap saluran air yang mampet dan jalan rusak serta berlubang yang makin melebar seperti kubangan kerbau di muka rumah mentereng atau tempat usaha (perusahaan) kita yang besar. Kita tidak bergeming melihat hal itu. Tak ada usaha apa pun dari kita sendiri untuk memperbaiki, minimal menambalnya. Seolah-olah itu bukan urusan kita.
3. Mengandalkan orang lain atau pemerintah
Oleh karena hal di atas bukan urusan kita, maka kita sengaja membiarkannya. Menunggu sampai ada orang lain atau pemerintah setempat berinisiatif memperbaikinya. Di sini tampak bahwa kita bukan saja tidak memiliki sikap rela berkorban tetapi juga tidak peduli pada keselamatan orang lain.
4. Budaya uang
Kalau pun kita ingin berbuat, tindakan kita hanya terbatas pada bantuan ala kadarnya. Sayangnya perbaikan yang kita lakukan itu harus di barengi oleh sikap mengemis kita. Meski dengan alasan kita tak memiliki cukup dana untuk melakukan perbaikan itu.
5. Kurangnya pendidikan lingkungan hidup
Dahulu guru-guru di sekolah seringkali mengajak para siswanya untuk melaksanakan kerja bakti baik di lingkungan sekolah, sekitar sekolah maupun di tempat-tempat umum. Atau membawa para siswa berkeliling mengenal lingkungan sekitar. Kini kegiatan semacam itu sudah langka. Kita tidak lagi menemui anak-anak sekolah yang bergotong-royong membersihkan tempat-tempat ibadah, lapangan sepak bola atau pasar dan sebagainya.
Kini kegiatan semacam itu telah digantikan oleh kegiatan pengenalan lingkungan yang membutuhkan biaya besar, yakni pergi ke luar daerah atau tempat wisata yang sesungguhnya makin menjauhkan siswa dari lingkungannya sendiri. Di samping itu sekolah pun membuat jarak terhadap lingkungan sekitar yang terhalang oleh pagar tembok yang tinggi. Seolah-olah antar penghuni dua bagian itu tidak memiliki koneksitasnya.
6. Penghijauan berorientasi bisnis
Harus diakui memang ada sebagian kalangan yang menumbuhkan budaya penghijauan: menanam tanaman hias. Sayangnya, bentuk penghijauan semacam ini hanya bersifat temporer dan berorientasi bisnis. Lihat saja misalnya tanaman jenis Anthurium yang harganya bisa mencapai selangit hanya berdasarkan jumlah daunnya. Yang menjadi kontradiksi dalam kaitannya dengan kepentingan penyelamatan lingkungan adalah yang ditanam bukanlah tanaman yang mampu menyerap air, melainkan tanaman-tanaman kecil yang hanya dapat dinikmati secara individual.
Oleh sebab itu sudah selayaknya kita secara bersama-sama merumuskan kembali pembangunan lingkungan yang komprehensif dan bukan sepotong-sepotong. Juga tidak menudingkan kesalahan pada salah satu pihak. Persoalan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Sebab banjir merupakan persoalan seluruh manusia dengan alam. Karenanya itu menjadi tanggung jawab kita semua. Dan perintah Tuhan untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan, pada dasarnya bukan hanya terbatas pada manusia, tetapi juga kepada alam.
Meski demikian, kita juga tidak bisa menuding alam sebagai penyebab. Sejatinya, peristiwa alam itu tergantung pada bagaimana manusia bersikap kepadanya. Jika kita mengelola alam dengan baik, maka alam akan memperlakukan manusia dengan baik pula. Demikian sebaliknya. Sikap transenden inilah yang tampaknya sering kita lupakan.
Kita juga tidak pernah belajar dari alam tentang cara bagaimana memperlakukannya dengan baik. Justru sebaliknya, kita malah mengeksploitasinya sedemikian rupa demi kepentingan perut semata. Karenanya yang terjadi kemudian adalah kerusakan lingkungan yang semakin parah. Itulah balasan alam kepada kita. Pelajaran demi pelajaran yang diberikan oleh alam ternyata luput untuk kita jadikan landasan pendidikan, terutama pendidikan lingkungan hidup.
*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan Ketua Forum Kajian Sosial-Pendidikan (FKSP) tinggal di Pondok Aren.
Barangkali tak ada kata yang lebih tepat untuk kita ucapkan kepada diri kita kecuali kata "bebal". Kita sudah terantuk batu bukan lagi satu atau dua kali, tapi berkali-kali, dan kita belum juga menengadah. Tahun 2007 lalu kita katakan banjir besar yang menutupi wilayah kita adalah siklus lima tahunan, namun ternyata banjir besar itu datang kembali tahun 2008. Tak urung Presiden pun ikut merasakan getahnya dan fasilitas se-vital bandara Soekarno-Hatta harus terkena imbasnya. Lalu di awal tahun ini sudah berapa banyak wilayah yang terendam banjir.
Itu artinya musibah banjir bukan lagi siklus lima tahunan, mungkin telah berubah jadi siklus tahunan. Bahkan diprediksi bahwa kehadirannya sudah tak terbatas lagi pada ruang dan waktu, artinya kapan pun dan dengan volume air hujan yang sedikit pun, banjir dapat merendam kawasan tertentu.
Fenomena ini tentu saja sangat mengkhawatirkan bahkan boleh disebut darurat, dan karenanya harus segera di atasi. Bukan mustahil di masa depan tidak hanya Jakarta atau Jawa yang akan tenggelam, tapi juga seluruh negeri ini. Penanganannya pun harus komprehensif, bukan sepotong-sepotong. Dan itu butuh kerjasama dari semua pihak serta keberanian untuk berkorban. Sebab masalah ini bukan cuma tanggung jawab pemerintah: banjir adalah urusan seluruh umat manusia dengan alam. Karena itu butuh kearifan dan keseriusan pula dalam mengatasinya.
Jika mau jujur, masalah ini sebenarnya berawal dari kegagalan kita membina hubungan baik dengan alam. Tidak hanya secara transenden tapi juga realitasnya. Selama ini persahabatan kita dengan alam hanya terbatas pada bagaimana memperoleh profit sebesar-besarnya dengan mengeksploitasinya sedemikian rupa demi kepentingan jangka pendek dan nikmat sesaat. Tidak terpikir apakah besok keturunan kita masih dapat menikmati kehidupan lebih baik atau tidak. Pokoknya yang penting enjoyable.
Apalagi kita tidak mengindahkan peringatan-peringatan alam lain seperti gempa bumi atau tsunami, yang begitu mudah dilupakan. Amnesia kita terhadap bencana yang baru lalu tak membuat kita kapok. Bahkan membuat kita makin serakah: pembalakan ilegal, pembangunan hutan-hutan beton dan pemukiman, pereduksian terus menerus daerah resapan air dan taman penghijauan justru makin menjadi-jadi.
Anehnya semua itu kita perparah dengan sikap hidup yang amburadul: membuang sampah sembarangan, membangun bantaran sungai dan mempersempit ruang gerak air. Semua itu harus dibayar dengan ongkos sosial ekonomi yang mahal: tragedi kehidupan manusia yang menjadi sia-sia, akibat dari ketidakmampuan kita belajar pada alam yang seharusnya terkembang jadi guru.
Proses pembelajaran kita terhadap alam itu tidak lantas membuat kita bergerak cepat mencari dan menemukan akar persoalan yang menyebabkan tragedi tersebut untuk kemudian segera mengatasinya. Tetapi justru menundanya hingga kita memaksa pemerintah untuk segera mengatasinya. Padahal, sekali lagi, ini urusan kita bersama.
Barangkali ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan bahan analisis dan renungan :
1. Sikap individualisme dan egois
Semakin lama kita rasakan semakin lunturnya budaya kerjasama antar sesama. Budaya gotong royong yang sejak dulu dikenal sebagai bagian kehidupan masyarakat kita, telah kehilangan ruhnya. Kepentingan bersama yang dahulu selalu didengung-dengungkan harus berada di atas kepentingan pribadi, kini berbalik arah: kepentingan pribadi di atas segala-galanya.
Ini disebabkan oleh ideologi individulisme yang berkembang di kepala dan membuat kita bersikap egois yang hanya memikirkan diri sendiri bahkan jika perlu menguntungkan diri sendiri. Oleh karena gotong royong dianggap tidak memberi keuntungan dan cenderung membuang-buang waktu, maka ia tampak hambar tak bermakna. Ironisnya kerjasama membangun lingkungan tidak masuk kategori urusan pribadi tapi urusan umum dan bersifat fardhu kifayah: siapa pun yang melakukan yang penting ada.
2. Runtuhnya kesadaran dan peduli lingkungan
Sikap individualisme itulah yang kemudian membuat kita kehilangan sense of environment care. Kesadaran dan kecintaan terhadap lingkungan hanya terbatas pada wacana dan kata-kata, bukan pada tindakan ril. Lihat saja bagaimana sikap kita terhadap saluran air yang mampet dan jalan rusak serta berlubang yang makin melebar seperti kubangan kerbau di muka rumah mentereng atau tempat usaha (perusahaan) kita yang besar. Kita tidak bergeming melihat hal itu. Tak ada usaha apa pun dari kita sendiri untuk memperbaiki, minimal menambalnya. Seolah-olah itu bukan urusan kita.
3. Mengandalkan orang lain atau pemerintah
Oleh karena hal di atas bukan urusan kita, maka kita sengaja membiarkannya. Menunggu sampai ada orang lain atau pemerintah setempat berinisiatif memperbaikinya. Di sini tampak bahwa kita bukan saja tidak memiliki sikap rela berkorban tetapi juga tidak peduli pada keselamatan orang lain.
4. Budaya uang
Kalau pun kita ingin berbuat, tindakan kita hanya terbatas pada bantuan ala kadarnya. Sayangnya perbaikan yang kita lakukan itu harus di barengi oleh sikap mengemis kita. Meski dengan alasan kita tak memiliki cukup dana untuk melakukan perbaikan itu.
5. Kurangnya pendidikan lingkungan hidup
Dahulu guru-guru di sekolah seringkali mengajak para siswanya untuk melaksanakan kerja bakti baik di lingkungan sekolah, sekitar sekolah maupun di tempat-tempat umum. Atau membawa para siswa berkeliling mengenal lingkungan sekitar. Kini kegiatan semacam itu sudah langka. Kita tidak lagi menemui anak-anak sekolah yang bergotong-royong membersihkan tempat-tempat ibadah, lapangan sepak bola atau pasar dan sebagainya.
Kini kegiatan semacam itu telah digantikan oleh kegiatan pengenalan lingkungan yang membutuhkan biaya besar, yakni pergi ke luar daerah atau tempat wisata yang sesungguhnya makin menjauhkan siswa dari lingkungannya sendiri. Di samping itu sekolah pun membuat jarak terhadap lingkungan sekitar yang terhalang oleh pagar tembok yang tinggi. Seolah-olah antar penghuni dua bagian itu tidak memiliki koneksitasnya.
6. Penghijauan berorientasi bisnis
Harus diakui memang ada sebagian kalangan yang menumbuhkan budaya penghijauan: menanam tanaman hias. Sayangnya, bentuk penghijauan semacam ini hanya bersifat temporer dan berorientasi bisnis. Lihat saja misalnya tanaman jenis Anthurium yang harganya bisa mencapai selangit hanya berdasarkan jumlah daunnya. Yang menjadi kontradiksi dalam kaitannya dengan kepentingan penyelamatan lingkungan adalah yang ditanam bukanlah tanaman yang mampu menyerap air, melainkan tanaman-tanaman kecil yang hanya dapat dinikmati secara individual.
Oleh sebab itu sudah selayaknya kita secara bersama-sama merumuskan kembali pembangunan lingkungan yang komprehensif dan bukan sepotong-sepotong. Juga tidak menudingkan kesalahan pada salah satu pihak. Persoalan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Sebab banjir merupakan persoalan seluruh manusia dengan alam. Karenanya itu menjadi tanggung jawab kita semua. Dan perintah Tuhan untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan, pada dasarnya bukan hanya terbatas pada manusia, tetapi juga kepada alam.
Meski demikian, kita juga tidak bisa menuding alam sebagai penyebab. Sejatinya, peristiwa alam itu tergantung pada bagaimana manusia bersikap kepadanya. Jika kita mengelola alam dengan baik, maka alam akan memperlakukan manusia dengan baik pula. Demikian sebaliknya. Sikap transenden inilah yang tampaknya sering kita lupakan.
Kita juga tidak pernah belajar dari alam tentang cara bagaimana memperlakukannya dengan baik. Justru sebaliknya, kita malah mengeksploitasinya sedemikian rupa demi kepentingan perut semata. Karenanya yang terjadi kemudian adalah kerusakan lingkungan yang semakin parah. Itulah balasan alam kepada kita. Pelajaran demi pelajaran yang diberikan oleh alam ternyata luput untuk kita jadikan landasan pendidikan, terutama pendidikan lingkungan hidup.
*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan Ketua Forum Kajian Sosial-Pendidikan (FKSP) tinggal di Pondok Aren.
Subscribe to:
Posts (Atom)
