Saturday, March 22, 2014

Friday, April 06, 2012

BAS (1)
Sesudah mengambilkan raport, seorang bapak marah-marah kepada anaknya.
“Kamu ini mau jadi apa sih ? Raport kamu isinya merah semua ! Dasar pemalas !
Tiba-tiba seorang ibu yang sejak tadi memperhatikan mereka bertanya : “Kenapa anaknya dimarahi begitu, Pak ?”
“Ini lho bu, anak saya malas sekolah. Jaman sekarang kalau tidak sekolah bagaimana nasibnya kelak. Sedang yang sekolah saja banyak yang jadi penganggur, apalagi yang tidak ? Bagaimana mungkin bisa dapat kerja, dapat uang dan bisa membangun rumah ..!
“Lho bapak ini bagaimana sih, kalau soal membangun rumah itu gampang ! Wong anak saya saja yang tidak sekolah mampu membangun rumah !
“Lho memangnya anak ibu pekerjaannya apa ?”
“Itu lho, tukang bas. He..he..! (YUS)

BAS (2)
“Wah, bagaimana nih, kita kekurangan pemain gitar. Lalu siapa ya yang dapat diajak main band ?” Tanya Amir.
“Aku dengar di sekitar sini ada pemain bas yang bagus”, kata Badrun.
“Siapa dia ?” Tanya Amir.
Tiba-tiba si Dodi yang sedang membetulkan sound system menyahut : “Oya, si Agus !”
“Agus ? Agus yang mana ?”
“Itu lho yang tinggal di ujung jalan ini !”
“Oo, dia itu bukan pemain bas, tapi tukang bas bangunan !”
“Dasar bloon”. (YUS)
BANG MANDOR


Oleh : Yusep Prihanto


"Akhirnya jawara itu mati juga," demikian bisik seseorang di tengah peringatan Maulid Nabi malam itu, mengomentari meninggalnya Bang Mandor. Ya, kabar kematian Bang Mandor bagai petir di siang bolong. Tokoh jawara kampung kami itu tiba-tiba dikabarkan mati justru di saat para tetangga tengah sibuk shalat maghrib.
Kebetulan sekali kepergian Bang Mandor senja itu disertai langit hitam pekat, hujan deras yang mendadak tumpah, angin kencang serta kilap dan geledek berpendar-pendar menyambar bumi. Seolah-olah alam mengiringi kepulangannya. Dan orang terkesiap mendengar kabar itu. Siapa sangka orang yang beberapa jam lalu masih terlihat mengobrol di depan rumahnya itu tiba-tiba diumumkan lewat speker musholah bahwa dia sudah tiada.
"Ya, namanya juga manusia, sejago-jagonya orang, masih ada yang lebih jago," bisik yang lain agak sinis.
"Maaf nih, biasanya kalau orang yang punya banyak dosa, matinya bisa lama. Tetapi kenapa Bang Mandor bisa demikian cepat, ya?"
"Husss, siapa bilang? Enak saja kamu bicara. Tahu apa kamu tentang dosa seseorang? Tidak ada satu pun yang tahu soal dosa manusia kecuali Tuhan. Sudahlah kamu jangan sok tahu!" .
Perbincangan terhenti sebab acara sudah dimulai. Lalu dua orang itu pun terdiam. Terpaku mendengarkan ceramah Pak Kiai yang bertutur tentang makna Maulid Nabi. Aku sendiri tak habis pikir, mengapa Bang Mandor bisa begitu cepat dicabut nyawanya. Padahal baru beberapa jam yang lalu aku masih sempat bertegur sapa dengannya. Untunglah selama ini hubunganku dengannya baik-baik saja. Sebab seringkali kudengar para tetanggaku terlibat keributan dengan Bang Mandor.
Pernah suatu ketika menjelang lebaran, jalan menuju ke rumah potong hewan di dekat rumah, digali olehnya selebar parit lantaran dia tidak memperoleh jatah daging sapi seperti biasanya dari pemilik jagal yang baru itu. Di lain waktu sebagai pimpinan pengurus makam ia juga sering terlibat keributan soal biaya pemakaman. Atau pun dia akan menyuruh anak buahnya untuk mencuri bahan-bahan bangunan kalau si pemilik bangunan tidak membayar semacam "uang jago". Dan kini jawara itu telah tiada. Kisah-kisah buruk tentangnya akan menjadi angin lalu. Barangkali itulah yang disebut takdir, kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh pemilik tubuh ini.
Malam makin larut, perhelatan Maulid pun usai. Seperti biasa suasana kampung jadi sunyi senyap jika ada orang meninggal. Tak lama kemudian erte Nano mampir ke rumahku sambil membawa beberapa isu seputar kematian Bang Mandor yang tampak agak misterius. Menurut gosipnya, Bang Mandor terjatuh dari kursi setelah dia merasakan sakit di dadanya, sehingga kepala bagian belakangnya terbentur batu besar.
Hal itu terjadi beberapa saat setelah dia terlibat perdebatan panas soal saluran air dengan dua orang tetangganya, Bang Miun dan Bang Tamrin. Keduanya adalah utusan Haji Maman, juragan kontrakan yang panik karena saluran air kontrakannya yang selama ini harus melalui tanah kosong milik orang lain. Dan kini tanah itu akan dibangun oleh yang empunya, sehingga saluran air kontrakan harus dibongkar dan dipindah ke tempat lain.
Tugas Bang Miun dan Bang Tamrin adalah melobi Bang Mandor agar mau mengizinkan tanahnya dilalui oleh saluran air tersebut. Namun entah kenapa Bang Mandor kemudian menjadi sangat marah pada kedua orang itu lalu memukul Bang Tamrin, yang tak lama setelah kejadian itu Bang Mandor pun semaput lalu meninggal.
Tentu saja kisah ini membuatku terkejut karena persoalan pokoknya bermula dari saluran air, yang menjadi dasar penyebab kematian Bang Mandor. Pikiran burukku mulai menggedor-gedor jantungku. Jangan-jangan orang akan mengaitkan bahkan menudingku sebagai penyebab asal muasal kematiannya.
Memang, seminggu sebelumnya Haji Maman, orang kaya baru yang sombong itu, datang ke rumah kami untuk membicarakan masalah saluran air. Rencananya jika diizinkan, dia akan membuat saluran melalui tanah kami yang tepat berada di belakang rumah kontrakannya. Pipa saluran air itu akan diusahakan dibuat sedemikian rupa dengan memendamnya dalam-dalam, sehingga diperkirakan tidak akan menimbulkan banyak masalah di kemudian hari.
"Ya, tentu saja nanti ada hitungannya," begitu janjinya. Sebenarnya aku tidak setuju. Tetapi karena dijanjikan dengan "akan ada hitung-hitungannya", mau tidak mau kami menyetujuinya asalkan saluran itu tidak menimbulkan kebocoran. Namun sayangnya hingga menjelang dia pulang, belum ada pembicaraan tentang "hitung-hitungan" tadi. Malah tanpa sepengetahuanku, orang tua setengah baya itu menyelipkan uang dua lembar ratusan ribu ke tangan ibu mertuaku.
Kami baru tahu setelah ibu mertuaku menceritakannya. Maka marahlah kami. Pertama, karena tidak ada pembicaraan lanjut dari janjinya itu. Kedua, karena ketidaksopanannya. Maka kuminta uang itu segera dikembalikan, sebab hal itu sama dengan meremehkan kami. Masak hanya dengan uang dua ratus ribu kami harus mengorbankan tanah hanya untuk menyalurkan limbah bisnis orang lain seumur hidup. Sementara dia enak-enakan menerima jutaan rupiah dari uang sewa kontrakan itu.
Bersama ipar-iparku, kami sepakat untuk menolak rencana Haji Maman itu. Dan kalau pun setuju, harus dengan syarat bahwa dia membayar sekian juta untuk satu kali selama-lamanya atau dengan sistem sewa pertahun.
"Kejam sekali!" ucapnya marah ketika esokan paginya kami bertemu.
"Ini bukan kekejaman!" tangkisku. "Sebenarnya saya mengizinkan kalau memang untuk rumah tinggal Bang Haji sendiri dan kita akan menjadi tetangga. Tapi masalahnya itu rumah kontrakan yang akan diisi oleh orang lain, yang asalnya dari mana-mana. Lagi pula itu lahan bisnis Bang haji. Karenanya ini harus dihitung secara bisnis pula. Orang-oranglah yang kejam, mendirikan bangunan dengan menghabiskan seluruh tanahnya tanpa memikirkan saluran pembuangan limbahnya. Kenapa dulu sewaktu membangun kontrakan itu, Bang Haji tidak memikirkan ke mana limbahnya akan dibuang? Mengapa baru sekarang anda menjadi panik?"
"Ya, dulu tidak punya pikiran ke sana." Jawabnya pelan.
"Itulah masalahnya. Kalau orang tidak mau rugi." Kataku.
"Sudah, sudah, cukup. Jangan diteruskan, "sergah iparku menengahi. "Jadi begini, Bang Haji. Kalau Bang haji setuju silakan kalau tidak setuju, ya silakan cari cara yang lain."
"Saya tidak sanggup kalau harus membayar sebesar itu," jawabnya sambil pamit pulang. Dasar manusia kikir, kataku dalam hati. Jadi orang mau enaknya saja. Untuk kepentingannya sendiri saja tidak mau berkorban. Dan memang orang sekampung pun sudah mengetahui kisah kesombongan dan kekikiran Haji Maman. Padahal dia jatuh kaya hanya karena menantunya yang pengusaha dan pernah mencalonkan diri menjadi anggota dewan.
Beberapa hari kemudian setelah itu, kudengar haji Maman berencana akan membuat saluran air dari depan kontrakannya melalui beberapa rumah warga lainnya dan berujung di tanah milik Bang Mandor yang merupakan bantaran sungai kecil menuju sawah. Rencananya, biaya penggalian, pipa-pipa serta tenaga kerjanya akan ditanggung bersama oleh beberapa warga yang rumahnya dilewati saluran air itu. Pintar juga dia mengakali orang lain agar dia sendiri tidak banyak berkorban. Itulah sebabnya kemudian dia mengutus Bang Miun dan Bang Tamrin menghadap Bang Mandor. Sedangkan dia sendiri tidak berani secara langsung berbicara sendiri pada Bang Mandor. Sebab ditengarai dia pernah dicaci maki Bang Mandor dalam masalah yang sama ketika pertama kali akan mendirikan bangunan kontrakan itu.
Kupikir baguslah itu, kalau memang dia berani menghadapi Bang Mandor. Lagi pula biaya untuk pembuatan saluran air itu akan lebih besar dari pada tawaran kami, sebab diperlukan lebih banyak pipa dan penggalian. Liciknya dia tak mau memikul sendiri biaya proyek itu. Sampai akhirnya terjadilah peristiwa tragis itu: bang Mandor was dead.

(bersambung)

Tuesday, December 27, 2011

Gambar wayang-wayang kecil ini terbuat dari kertas bekas karton pembungkus susu bubuk kreasi Bapak Rasmadi yang dibuat untuk cucu-cucunya. Bagi anda yang berminat memasarkannya silakan hubungi 021-7337807 atau 085885786001

Sunday, March 06, 2011

MENANTANG SEKOLAH

Belakangan ini wacana tentang Home Schooling semakin menguat dengan makin bertumbuhnya lembaga-lembaga pendidikan nonformal. Demikian pula munculnya para orangtua dan anak-anak yang bersikap memberontak terhadap lembaga persekolahan mapan, di mana mereka emoh untuk belajar di sekolah.
Sebut saja misalnya sekolah Qaryah Thoyibah di lereng gunung merapi yang membina anak-anak sekitarnya di "sekolah yang membebaskan" itu. Juga ada ibu Yayah, seorang guru SD di Bekasi yang tidak mau menyekolahkan keempat anak-anaknya. Sebelumnya pernah pula di era 80-an, ada sebuah keluarga penulis dan intelektual di Bandung juga memutuskan untuk mendidik anak-anaknya di rumah.
Selain itu tak tanggung-tanggung, dari anak psikolog kondang Seto Mulyadi hingga anak Menteri Sofyan Jalil juga memutuskan untuk tidak bersekolah di sekolah formal. Lalu kini muncul fenomena lain sebuah buku berjudul Dunia Tanpa Sekolah karya seorang anak berusia 15 tahun bernama Muhammad Izza Ahsin Sidqi asal Salatiga Jawa Tengah, yang mengisahkan tentang keberaniannya memilih untuk tidak meneruskan belajar di sekolah formal dan lebih memilih belajar di rumah.
Setidaknya pilihan ini, bagi para bocah remaja itu, merupakan pilihan yang butuh keberanian matang dalam memutuskan berhenti sekolah, bukan saja bagi dirinya tapi juga bagi orangtua dan lingkungan sekitarnya. Di tengah dunia pendidikan yang penuh dengan hiruk pikuk formalitas, bersekolah di rumah menjadi semacam keputusan konyol dan cenderung dituding sebagai snobisme dan eksklusif.
Wong banyak anak yang berkeinginan sekolah tinggi, lha kok tahu-tahu anak-anak itu ngeyel tidak mau sekolah, tentu dalam alam pikiran kita yang awam akan bertanya: mau jadi apa nanti mereka? Barangkali pernyataan semacam inilah yang berputar di kepala kita ketika mendengar keputusan tersebut. Sebab bagi kita yang sejak bayi senantiasa didengung-dengungkan bahwa sekolah adalah sesuatu yang sangat penting, maka tidak bersekolah berarti mati langkah di masa depan. Dan itu berarti kehancuran masa depan atau madesu (masa depan suram).
Tetapi untunglah dunia ini terbuka bagi siapa pun yang ingin melakukan pemberontakan dan revolusi diri. Tak ada larangan bagi siapa pun untuk berbeda langkah dengan kemapanan dunia persekolahan. Dan sekolah bukan satu-satunya jalan guna mencetak masa depan. Masalahnya manusia mana sih yang bisa mengetahui nasib masa depan seseorang? Toh, hidup bukan hanya sebuah garis lurus. Ia adalah juga "the long and winding road" begitu kata The Beatles. Atau barangkali "hidup itu tidak harus dikalkulasi, tapi jalani saja", kata Emha Ainun Nadjib, salah seorang master budayawan dan penulis Indonesia yang hanya mampir selama empat bulan di Fakultas Ekonomi UGM dan kabarnya sempat membakar ijasahnya.
Atau sebut saja Rabindranath Tagore, tokoh masyhur India dan orang Asia pertama peraih Nobel Sastra yang "ketika aku masih sangat belia aku berhenti belajar dan lari dari pelajaranku. Langkah itu telah menyelamatkanku, dan aku mendapatkan semua apa yang kuperoleh kini berkat langkah yang berani itu. Aku melarikan diri dari kelas-kelas yang mengajar, tapi yang tidak mengilhamiku, dan aku memperoleh kepekaan terhadap hidup serta alam". Sebab bagi Tagore "Sekolah adalah siksaan tak tertahankan", sehingga di usia 13 tahun ia berhenti dan jadi penyair.
Kedua tokoh itu hanya sekedar sampel dari deretan panjang para tokoh dan seniman besar yang sukses dan tidak lahir serta dibesarkan oleh bangku akademis bahkan sebagian tak pernah mengecap dunia sekolah, sebut saja Thomas Alfa Edison si Tuli penemu lampu listrik dan 1093 barang baru yang hanya bersekolah selama tiga bulan lalu pada umur 12 harus sudah cari makan. Atau Haji Agus Salim yang mampu menguasai lima bahasa dan lain-lain. Mereka adalah pemilik bakat tertentu yang luar biasa, dan terutama mereka adalah manusia-manusia sabar, tekun dan pekerja keras. Hal ini juga sejalan dengan temuan sejumlah penelitian yang menyebutkan bahwa bakat hanya menyumbang sepuluh persen dari sebuah kesuksesan, sedangkan sumbangan terbesar ialah ketekunan dan kerja keras.
Ada sebuah postulat anonim yang menyebutkan: "Di dunia ini tak ada yang dapat menggantikan ketekunan. Bakat pun tidak. Kita sudah terlalu biasa melihat orang-orang berbakat tetapi gagal. Kehebatan daya pikir pun tidak. Dunia ini penuh dengan gelandangan terpelajar. Ketekunan dan tekadlah yang paling ampuh. Semboyan "maju teruslah" yang telah memecahkan masalah dan akan selalu memecahkan masalah umat manusia".
Maka "laa khaufun wa laa tahzaan", jangan takut dan jangan sedih. Setiap manusia lahir dengan rezekinya sendiri-sendiri. Rezeki tak tergantung dari ijasah sekolah. Ijasah atau sertifikat hanya sekedar cap dan pengakuan yang bersifat relatif karena ia hanya bikinan manusia. Dan karena ia bikinan manusia maka ia bisa diperlakukan sebagai alat untuk menyimpang. Maka tak heran jika terjadi banyak penyimpangan dengan modus ijasah palsu.
Terkadang lucu juga kalau ada anak yang bertanya: untuk apa sih kita sekolah : mencari ilmu, menggapai cita-cita, mendapat pekerjaan, memperoleh ijasah atau sekedar bersosialisasi? Sulit rasanya untuk merumuskan secara tepat apa tujuan bersekolah bagi seorang anak. Bahkan seorang guru pun belum tentu mampu menjawabnya.

Wednesday, December 22, 2010

Pak Harto Memang Berstamina Tinggi dan Keras Kepala….
OPINI Linda | 22 December 2010 | 10:42 605 24



7 dari 12 Kompasianer menilai Aktual. Orang yang satu ini tak habis-habisnya dipuji, dikecam, disayang, maupun kembali disesali banyak orang. Sampai akhir hayatnya, yang bercucuran air mata maupun yang tetap menanggapi dengan sinis, seakan tersebar di mana-mana. Sebagai seorang wartawan, dulu, saya selalu berupaya bersikap terukur dan menghindari penilaian bias terhadapnya. Banyak juga hal yang tidak saya sukai dari Pak Harto, Presiden yang menjabat begitu lama. Ada juga kebijakannya yang saya anggap masih berada di nilai tertinggi ketimbang pengganti-penggantinya.

Pak Harto, benarkah ia seorang yang otoriter? Yang jelas, kemauannya memang keras. Keyakinannya terhadap sesuatu memang sering menggebu-gebu meski tak dinyatakan terang-terangan di depan khalayak. Harus dilaksanakan, harus terlaksana, harus direalisasikan. Staminanya memang stamina tentara. Tak mengenal lelah, dan betul-betul ‘orang lapangan’. Itu yang saya tangkap darinya.

Ada segi ‘human interest’ yang ingin saya ceritakan sedikit tentangnya. Tentu ini hasil dari kasak-kusuk , pengamatan dan sesekali investigasi kecil-kecilan melalui orang-orang terdekatnya. Soal keras kepalanya, memang adakalanya membuat orang pusing tujuh keliling. Masalah kunjungan ke Bosnia, misalnya. Sampai malam terakhir di Zagreb ia masih dibujuk untuk tidak mengunjungi tempat berbahaya itu. Pak Harto tetap tak bergeming. Ia tetap berangkat pada tanggal 13 Maret 1995. Semula, di pesawat ia tak sudi memakai baju anti peluru berwarna hitam kelam yang dibawa dari Indonesia. Beratnya 20 kg. Baju anti peluru yang disediakan UNPROFOR menurut salah satu anggota Paspampres ketika saya tanya, masih kurang canggih ketimbang yang dibawa dari Indonesia. “Kalau dengan pistol biasa saja, memang tidak tembus. Tapi dengan senjata panjang, baju dari UNPROFOR bisa nembus,” ujar sumber saya saat itu.

Kembali ke baju anti peluru yang tak mau disentuh Pak Harto, semuanya berjumlah empat. Dua buah dipakai oleh pengawal pribadi, sisanya diletakkan di jendela tempat Pak Harto duduk di pesawat. Ketika dipaksa tetap memakai baju anti peluru setelah keluar pesawat, Pak Harto tetap tidak bersedia. “Kan pengawal-pengawal saya yang lain sudah pakai, saya nggak usah lagi ah!,” katanya tegas.

Pulang dari ‘kunjungan ngeri’ Bosnia, setibanya di Jakarta tanggal 15 Maret ia disarankan untuk beristirahat. Pak Harto kembali tak menurut. Ia malah pergi ke dokter gigi di kawasan Menteng dekat rumahnya, lalu sorenya berangkat main golf. Esoknya, hari Sabtu, saat disarankan untuk bersantai di Cendana karena sudah melakukan perjalanan panjang dan melelahkan, ia malah memerintahkan ajudan dan para pengawalnya untuk pergi dengannya ke lapangan golf di kawasan Ciganjur yang sangat jauh dari rumah. Malamnya ia nonton wayang di Taman Mini Indonesia Indah. Beristirahatkan dia setelah itu? Ternyata tidak. Minggu pagi usai sholat subuh para pengawal sudah bersiap diri lagi mengantar sang Presiden ke Tapos, untuk memeriksa koleksi sapi-sapinya.

Sumber saya yang terdekat dengan Pak Harto langsung mengusap keringat di dahi dan geleng-geleng kepala. “Pengawal kan teler juga tuh! Dikiranya dari perjalanan ke luar negeri yang begitu menegangkan, ada istirahatnya. Ternyata Presiden jalan terus !,” ujarnya. Dan, yang lucunya lagi, urusan keras kepala yang lain adalah tentang pemilihan baju. Pak Harto punya baju golf kesayangan, dari bahan kaos. Sudah agak memudar warnanya tapi ia suka sekali memakai blus itu. Kalau disarankan blus lain, tetap yang satu itu yang diambilnya lagi. Pernah suatu ketika, sengaja blus itu diletakkan di lemari agak disimpan di tempat tumpukan bawah. Lalu kata sumber saya, “Eh, tetap saja dia cari, dan diletakkan lagi, dia pindahkan lho di bagian atas agar bisa dipakai lagi…hahahhaha…!”
Parodi: Bukan Siapa dan Bukan Biasa
Minggu, 4 April 2010 | 07:53 WIB

Ilustrasi. Oleh Samuel Mulia

KOMPAS.com - Saya sedang membaca sebuah profil pebisnis muda yang sukses di sebuah majalah. ”Saya bukan siapa-siapa. Berasal dari sebuah desa kecil di kota Sragen. Nyaris SMA pun tak lulus karena keterbatasan dana dan sebagainya. Tetapi beruntung saya lahir dari keluarga yang berlimpah kasih sayang.”

Saya sangat tertarik sekali dengan kalimat bukan siapa-siapanya itu. Saya tak tahu, apakah kalimat itu bernada rendah hati, rendah diri, tak percaya diri, atau lainnya. Satu hari sebelum saya membaca profil pebisnis itu, saya makan siang bersama seorang teman lama. Ia mulai mengeluh karena pasangan hidupnya yang sudah berusia 43 tahun itu kehilangan kepercayaan diri karena tidak sekaya teman-teman pergaulannya.

Gara-gara itu, sudah lama suami teman lama saya itu mengundurkan diri dari lingkup pergaulannya dan enggan bertemu dengan orang lain, terutama kalau berhadapan dengan mereka yang sukses di usia muda.

Panik

Saya mengalami perasaan seperti kasus kedua di atas, terutama saat menjelang setengah abad seperti sekarang ini. Apalagi mengetahui dan melihat langsung bermunculannya pengusaha muda di usia tiga puluh tahun, yang sudah memiliki bisnis segala rupa. Dari pengeboran minyak sampai batu bara. Tanpa melupakan yang memiliki stasiun tivi, bahkan bisa membeli perusahaan asing.

Di usia lima puluh kurang tiga tahun, saya cuma punya rumah tinggal seluas enam puluh meter persegi, mobilnya bernama taksi, bisnisnya juga batu. Batu apung, maksudnya. Nurani saya berteriak. ”Usahanya minyak juga, bukan? Minyak jelantah, maksudnya.” Tivi juga punya. Tivi kabel, gitu loh.

Melihat itu semua, saya jadi frustrasi, dan seperti pebisnis muda di atas, saya berucap berkali-kali saya ini kok cuma biasa-biasa saja. Kemudian, pertanyaan segera muncul. Seperti biasa. Jadi, kalau bukan siapa-siapa, yang siapa-siapa itu seperti apa? Kalau biasa-biasa saja, maka yang bukan biasa itu seperti apa?

Sang pebisnis muda asal Sragen di atas mengatakan bahwa ia nyaris tak lulus SMA. Membaca itu saya jadi tertawa dan teringat akan keinginan saya untuk malah tidak bersekolah sama sekali. Buat saya sekolah itu kok yaa… buang waktu saja. Mengapa harus ke sekolah kalau bisa belajar di rumah? Apakah saya kemudian menjadi bukan siapa-siapa kalau tak lulus dari sekolah favorit? Sekolah anak pejabat?

Tetapi begitulah ”hukuman” yang diberikan kehidupan ini. Yang itu bukan siapa-siapa, yang ini siapa-siapa. Yang gitu luar biasa, yang gini biasa-biasa. Mungkin gara-gara itu, banyak manusia merasa cari pasangan hidup itu harus yang koaya roaya, berdarah biru, yang menyejahterakan lahir meski acap kali menghancurkan batin. Karena buat kehidupan, yang mentereng lebih meyakinkan. Mau ambruk setelah itu? Itu urusan belakang.

Berusaha tidak panik

Maka, setelah membaca profil pebisnis muda itu, saya mendapat sebuah tenaga baru untuk berhenti berpikir bahwa saya ini biasa-biasa saja, bahwa saya bukan siapa-siapa. Kalau banyak orang lahir di kota besar, yaa… kota kecil menjadi luar biasa. Seperti cabe rawit. Kecil, tetapi mampu membuat orang nyap-nyapan.

Kalau saya tidak lulus SMA, itu bukan hal yang biasa-biasa. Yang lain lulus, saya putus, itu luar biasa. Apalagi sudah putus sekolah, malah jadi pebisnis dan mengalahkan yang lulus dan menjadi siapa-siapa.

Saya akan melatih melarang otak saya berpikir, kalau saya ini biasa dan bukan siapa-siapa. Hanya karena tidak kaya dan bukan turunan ningrat, atau bukan anak pemilik sejuta perusahaan. Bahwa bisa menjadi tidak kaya di tengah orang superkaya, dan bertahan untuk tidak tergoda menjadi kaya dan tak tergoda menjadi siapa-siapa, dalam jalan yang tidak benar, itu luar biasa.

Saya pikir lagi, saat Sang Pencipta mengizinkan saya lahir di dunia ini, Ia tidak melakukannya dengan cara yang biasa-biasa saja. Setiap manusia diberikan keunikan. Masalahnya, kok yaaa… manusianya yang sama-sama hanya merupakan hasil ciptaan malah melakukan perbandingan nilai.

Beberapa tahun lalu, saya mendatangi ayah. Tentu sebelum ia berpredikat almarhum. Saya bilang padanya, seharusnya ia bangga punya tiga anak. Satu anak perempuan, satu anak laki, dan satu laki keperempuanan yang meliuk seperti cacing. Sesuatu yang bukan biasa-biasa saja. Karena tetangga dan orang lain cuma bisa punya anak laki dan perempuan.

Kalau seandainya ayah saya diwawancarai oleh majalah yang mewawancarai pebisnis muda itu, apakah ia akan merasa bahwa ia biasa-biasa saja, luar biasa atau merasa bukan siapa-siapa karena selain bukan keturunan ningrat, ia punya anak ”cacingan”? Karena ayah saya sudah almarhum, jadi saya tak bisa mendapatkan jawabannya. Bagaimana kalau saya saja yang menanyakan Anda, kalau seandainya Anda jadi ayah saya?

Thursday, December 16, 2010

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
(Ali ‘Imran(3):159)
JADWAL KEGIATAN
WORKSHOP PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN
‘BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER”
MTS. BAITIS SALMAH CIPUTAT
TAHUN PELAJARAN 2010/2011
TANGGAL 15 DESEMBER 2010



HARI
WAKTU ACARA KET.
Rabu,
15 Desember 2010 08.00 – 09.00




09.00 – 10.00
10.00 – 10.15
10.15 – 12.00
12.00 – 13.00
13.00 – 14.00

14.00 – 14.15
14.15 – 16.00
Pembukaan
• Sambutan Panitia
• Sambutan Kepala Sekolah
• Sambutan Staf Mapenda Depag
(Bp. Drs. TB. Aman Hasyim, M.Pd)
K T S P (Bp. Kunardi, S.Pd)
Coffee Break
Active Learning (Bp. Kunardi, S.Pd)
ISHOMA
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
(Bp. Kunardi, S.Pd)
Coffee Break
Pendidikan Karakter
(Bp. Kunardi, S.Pd)

Monday, May 31, 2010

SUHU POLITIK TANGSEL MENJELANG PILKADA

Oleh : YUSEP PRIHANTO
KENAIKAN KELAS DAN KELULUSAN

1. Syarat Kenaikan Kelas

Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir tahun ajaran. Siswa dinyatakan naik kelas apabila :
1. Telah mencapai kriteria ketentuan minimal pada semua indikator, Kompetensi Dasar (KD), dan Standar Kompetensi (SK) pada semua mata pelajaran.
2. Kehadiran di kelas untuk semua mata pelajaran minimal 80 % untuk kelas VII dan 85 % untuk kelas VIII.
3. Tidak pernah terlibat narkoba, miras, dan tawuran.
4. Tidak pernah melawan guru secara fisik dan non fisik.

Siswa dinyatakan harus mengulang di kelas yang sama apabila :
1. Belum mencapai kriteria ketuntasan minimal pada lebih dari 4 mata pelajaran dan tidak boleh ada nilai kurang dari 40.
2. Ketidak hadiran tanpa keterangan di kelas untuk semua mata pelajaran lebih dari 20 % untuk kelas VII dan 15 % untuk kelas VIII.
3. Pernah terlibat narkoba, miras, dan tawuran.
4. Pernah melakukan tindakan melawan guru secara fisik dan non fisik.

Ketika mengulang di kelas yang sama, nilai siswa untuk semua aspek mata pelajaran yang ketuntasan belajar minimumnya sudah tercapai, minimal sama dengan yang sudah dicapai pada tahun sebelumnya.

2. Syarat Kelulusan

Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:
a. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
b. Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan;
c. Lulus ujian sekolah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
d. Lulus Ujian Nasional.

Saturday, May 29, 2010